Sabtu, 03 November 2018

Memorable Place called Hutan Gunung Situ Lembang


“Duaaarrrrrr…”

“Tiaraaaaappp… Berlindung….”

Terdengar beberapa suara memberi komando. Tidak perlu menunggu dentuman granat kedua kalinya, kami semua langsung berlari mencari tempat perlindungan. Aku tak bisa berpikir dengan jelas saat itu, tetapi rasanya mengikuti para senior dengan latar belakang tentara cukup masuk akal kulakukan dalam kondisi seperti itu. Kini aku berdiri di balik pohon besar, mengatur nafas yang tersengal. Di sebelahku ternyata komandan reguku, cukup menenangkan bagiku saat itu.

Tak lama kemudian terdengar sirene yang diikuti suara keras dari sebuah toa.
“Semua berkumpul di lapangan”, dengan nada tegas.
Tanpa banyak kata, aku dan teman-temanku bergegas turun menuju lapangan, melewati bukit-bukit yang cukup terjal, menjauhi aula yang baru saja kami tempati.

Oh Tuhan, rasanya baru tadi aku bisa makan dengan sedikit tenang karena kecepatan makanku mulai terlatih disini, yang mengharuskan makanan habis tanpa sisa dalam kecepatan yang tak terbayangkan olehku sebelumnya. Tetapi kini lututuku sudah dibuat lemas lagi dengan granat dan sirine. Apa lagi yang akan kuhadapi setelah ini?
***

“Mba, dengar-dengar kita mau diajak ke Akmil (Akademi Militer) di Magelang ya? Naik Hercules katanya”, tanya Mas Wahyu padaku.
“Oh iya, Mas? Saya malah belum dengar apa-apa. Wah seru dong, saya gak kebayang naik Hercules, pasti keren sekali. Itu pesawat tentara yang biasa dipakai penerjun kan ya?”, aku begitu antuasias siang itu. Bayanganku tertuju pada pesawat dengan kursi berhadapan yang biasa digunakan para tentara untuk melakukan aksi dari udara. Tentu aku belum pernah melihatnya langsung, tetapi rasanya beberapa iklan komersial di televisi ataupun beberapa pertunjukkan tentara menggambarkan apa yang kubayangkan saat itu.
“Ndak jadi, Mba. Sepertinya istana tidak mengizinkan, jadi mungkin dicari tempat lain”, Pak Bima, komandan reguku, atau biasa disebut Danru berkomentar.
“Oh begitu..” kutanggapi dengan nada kecewa, mengingat bayangan tadi tentu akan menjadi penutup yang sempurna perjalanan kami dua minggu ini di Sentul.

Usai seleksi selama seminggu pertama, kami lanjut mengikuti program kepemimpinan. Tidur di barak-barak yang biasa digunakan para tentara sebelum pengiriman mereka ke medan juang, jogging pagi mengitari area pelatihan dilanjutkan apel pagi, dan coffee break dengan diskusi berbobot usai mengikuti talkshow dari pembicara-pembicara hebat di bidangnya, rasanya akan menjadi memori yang berbekas di 109 kepala peserta acara ini.

Rekan-rekanku datang dari berbagai latar belakang, baik sipil maupun tentara. Mendengar cerita mereka, selalu mengundang decak kagum. Mereka begitu hebat di bidang yang mereka geluti, seperti Pak Ardy yang merupakan PNS di sebuah daerah di Jawa Timur yang mampu menghasilkan persilangan udang dengan kualitas terbaik dan siap impor, kemudian ada Mas Riko yang menggeluti kecerdasan artifisial sehingga melahirkan berbagai macam robot pintar, pun dengan Amira, wanita yang sedang hamil muda ini ternyata adalah seorang sociopreneur. Apalagi bapak-bapak TNI Polri yang kini sedang berjibaku bersama, pangkat mereka tinggi-tinggi, namun aura kepemimpinan berbalut rendah hati justru yang terasa oleh kami. Dibandingkan aku yang saat itu baru menapaki karir yang juga belum bisa dibilang gemilang, rasanya aku masih harus banyak belajar dari mereka.
***

“Pak, kita jadinya ke Lembang? Ndak jadi ke Magelang?” tanyaku pada komandan grupku yang merupakan angkatan laut.
“Iya, kita akan naik tronton ke Gunung Hutan Situ Lembang”, jawabnya lugas.
“Hebat nanti petualangan kita ini, kita akan pergi ke tempat tentara-tentara terbaik di negeri ini dilatih”, ujar seorang rekan grupku yang lain, yang berlatar belakang angkatan darat.
Seperti menyadari kegelisahanku mendengar frase tempat terbaik para tentara dilatih, yang berarti tempaan mereka pasti luar biasa, dan itulah yang akan kami hadapi, salah seorang rekan grupku menenangkanku.
“Ndak usah takut ya, Mba, pokoknya ikuti saja instruksi yang ada”, pesan bapak berumur lima puluhan dengan latar belakang angkatan udara ini padaku, sambil tersenyum.
***

Aku tidak menikmati film horror, kalaupun terpaksa menonton, biasanya tangan rekanku habis kucengkeram berkali-kali.
Tetapi kali ini berbeda.
Mungkin karena kami diamanahkan sebagai “caraka” – pembawa pesan bangsa – dengan helm tentara di kepala, godaan macam pocong tergantung di atas pohon, batu nisan yang menyala di tengah pekatnya hutan, dan semerbak menyan bisa dilalui dengan Laa haula wa la quwwata illa billah.
Berjalan cepat, merangkak, kemudian jatuh bangun berkali-kali karena medan yang ditempuh benar-benar sempurna kegelapannya, kadang terperosok menabrak pohon, atau justru mencipak sungai, selama berpegangan pada tali, aku terus mencoba bertahan. Meskipun harus memeluk pohon yang berdiameter seluruh rentangan tangan, aku tak berani sedikitpun melepaskan tali dari genggaman. Kepanikan ketika tali terputus langsung terbayar tunai dengan meluncur tepat menuju kubangan air dengan sambungan tali yang telah menanti. Sejuknya Situ Lembang bersepakat dengan air dalam kubangan menyengatkan dingin yang teramat sangat. Namun perjalanan jauh yang menanti di hadapannya cukup menghangatkan badan lagi.

Saat perjalanan terasa begitu melelahkan, suara yang terdengar hanya desah nafas sendiri yang tersengal, sempat terpikir mungkin perjalanan ini menggambarkan perjuangan perkuliahan yang akan ditempuh. Jatuh bangun menegakkan cita-cita untuk berderma pada Ibu Pertiwi.

Ada cahaya, setitik harapan bagiku yang sudah mulai kepayahan.
Namun ternyata untuk mencapai titik itu, aku harus berputar cukup jauh, menyisakan tenaga yang nyaris lenyap sesampainya di Posko berpenerangan.

“Janganlah lupa pada bangsa sendiri…. Bangsa Indonesia butuh generasi-generasi penerus perjuangan… Kalau bukan kita siapa lagi”, begitulah bunyi pesan yang harus kubawa dalam hati untuk dilaporkan pada Pelatih di Posko dengan penerangan. Lengkap, tanpa satu kata pun tertinggal, tanpa satu tanda baca pun terlewatkan.

Kayu api unggun sudah bergemeletakan menanti kami, yang dalam sehari sudah dua kali bermandi lumpur kubangan dan Situ. Tak perlu ditanya apa warna pakaian kami saat ini, rasanya bergeletakkan di tanah pun tak akan ada yang menyadari, meskipun aslinya kaos kami berwarna asal merah terang. Sambil menanti caraka lain, secangkir minuman hangat cukup menenangkan perut kami. Tidak sedikit yang menyerah di tengah jalan, namun lebih banyak caraka yang berhasil menuntaskan perjuangan, hingga mengundang decak kagum para bapak dari TNI Polri melihat rakyat sipilnya cukup tangguh menempuh aral melintang. Perjalanan malam hingga dini hari itu ditutup dengan mencium Sang Saka Merah Putih secara bergantian di sisi api unggun yang menyala besar, oleh mata yang basah karena cintanya pada Ibu Pertiwi.

Tidak seperti saat berangkat, kali ini tidak ada yang bersuara di tronton yang membawa kami dari Lembang, semua tertidur pulas kelelahan. Semoga esok, saat kami sampai di Sentul, kami mampu kembali tersenyum ketika bertemu dengan Bapak Presiden di penghujung masa baktinya selama sepuluh tahun memimpin negara ini, untuk melepas kami, para awardee.

Salam hormat kepada para Pelatih dan Patriot di berbagai penjuru nusantara.

*ditulis dalam rangka One Week One Writing Kelas Minat Menulis Ibu Profesional Depok