Selasa, 31 Desember 2019

1000 Buku Sebelum 5 Tahun



Gerakan membacakan seribu buku sebelum usia lima tahun, apakah itu tidak terlalu berlebihan? Mari kita hitung. Jika dibagi dalam lima tahun, maka dalam setahun, setidaknya hanya 200 buku saja yang perlu dibaca. DIbandingkan dengan 365 hari yang tersedia, maka jika kita membacakan sebuah buku setiap harinya saja, hal tersebut sudah lebih dari cukup.

Kegiatan ini mungkin belum terlalu familiar di tempat kita, namun ternyata gerakan ini sudah marak dilakukan di berbagai negara maju untuk mendukung perkembangan anak secara optimal. Berbagai perpustakaan di negara-negara tersebut kerap membuat tantangan untuk mendukung anak-anak mengikuti gerakan membaca buku ini dengan reward berupa mainan atau buku. Orang tua tentunya juga diharapkan berperan aktif dalam gerakan peningkatan literasi ini, dengan membacakan buku nyaring (read-aloud) ke anak. Tidak perlu teknik khusus, cukup luangkan waktu dan mulailah membacakan apa yang tertera pada buku dengan sepenuh hati anda, sehingga anda dan anak dapat mengikuti cerita tersebut dengan menyenangkan.

Membacakan buku di usia dini dipercaya dapat menstimulasi otak anak. Otak yang mendapatkan stimulasi memadai sejak awal akan membantu anak untuk mengelola informasi lebih cepat dan tepat sehingga ia tumbuh cerdas dan kreatif. Hal ini juga diyakini membantu anak untuk lebih siap memasuki dunia sekolah dan tumbuh menjadi pembelajar aktif dan mandiri sepanjang hidupnya. Dalam sebuah penelitian, dampak tersebut dikarenakan dalam aktivitas membaca di usia dini terdapat kegiatan mengenali huruf dan suara yang ditimbulkannya, menstimulasi kecerdasan matematika logis (membandingkan ukuran bunga, mencocokkan binatang dengan induknya, dll), menghubungkan bacaan dengan kondisi di sekitar anak (“wah, bukunya cerita tentang banjir, kemarin rumah kita juga banjir ketika hujan besar”) dan menjadikannya sebagai dasar untuk kemampuan berpikir yang lebih kompleks di waktu mendatang1. Dalam analisis hasil Programme for International Students Assessment (PISA) yang melibatkan 32 negara, terdapat hubungan yang signifikan antara anak yang gemar membaca dan variative jenis bacaannya, dengan nilai literasi membacanya dalam PISA, terlepas dari bagaimanapun latar belakang social ekonominya2.

Kabar baiknya, gerakan seribu buku sebelum usia lima tahun ini tidak mengharuskan anda membacakan seribu buku berbeda, tetapi bisa saja membacakan buku yang sama berulang-ulang. Meskipun demikian, tidak dapat kita pungkiri bahwa semakin beragam buku yang dibaca, maka akan semakin kaya wawasan dan kosakata yang dimiliki anak. Dengan demikian, tidak berlebihan sekiranya kita akan melihat anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang kaya gagasan di kemudian hari dengan tabungan wawasan dan kosa katanya yang berlimpah.

Lalu bagaimana melakukannya? Mulailah sedini mungkin. Dalam sebuah penelitian3, janin dalam kandungan sudah dapat mendengar suara anda. Selain percakapan sehari-hari, anda dapat mengajaknya untuk mulai membaca buku dengan bersuara (read-aloud). Perhatikan responnya, apakah ada tendangan dari dalam perut ketika anda mulai memainkan intonasi suara? Pasti menyenangkan sekali bukan?!

Bagaimana jika anak anda baru berusia satu tahun, apakah mungkin membacakan buku untuknya? Tentu. Anda bisa memulainya dengan membacakan buku bergambar, dengan teks seminimal mungkin. Pada buku bergambar, yang merupakan buku tahap awal pengenalan membaca, bisa saja dalam satu halaman buku hanya terdapat gambar sepenuh halaman dengan satu-dua teks, seperti ‘seekor gajah’. Gambar gajah itulah yang akan menarik perhatiannya. Ketika anda menceritakan tentang gajah dengan berbagai imajinasi yang dapat anda perdengarkan pada anak, disitulah ia akan mulai tertarik untuk duduk di pangkuan anda menyimak apa yang anda ceritakan. 

Namun, seperti yang kita pahami bahawa rentang konsentrasi anak masih terbatas. Anak usia setahun berarti baru bisa berkonsentrasi dalam satu menit, sedangkan anak usia dua tahun, baru bisa berkonstentrasi selama dua menit, dan seterusnya. Oleh karena itu, perlu dimaklumi jika anda mendapati aktivitas membaca buku ini tidak bisa bertahan lama di awal. Ia hanya duduk sejenak sekitar satu dua menit, lalu kembali bermain dengan mainannya. Tidak masalah, anda bisa terus membacakannya sambil sesekali memanggil namanya untuk menarik perhatiannya. Atau anda sudahi, namun lakukan beberapa kali sehari sehingga anak terbiasa dengan aktivitas membaca buku tersebut. Atau bisa saja anda agendakan kegiatan membaca buku ini khusus di penghujung hari sebelum tidur, sehingga ketika anak sudah merasakan kesenangan ini, ia akan senantiasa menanti anda di tempat tidurnya untuk membacakan buku sebelum terlelap ke alam mimpi. Namun, dalam sebuah penelitian, durasi membacakan buku ini sebaiknya tidak kurang dari lima belas menit setiap harinya secara berkelanjutan untuk mendapatkan manfaat yang optimal4.

Ada berbagai jenis buku yang dapat diberikan pada anak. Dari bahan pembuatan buku, pada fase awal, buku yang dikenalkan sebaiknya memiliki materi yang kuat seperti board book atau buku bantal sehingga tidak mudah disobek atau digigit, sambil terus mengingatkannya untuk bersama-sama merawat buku yang dibacanya. Dari isi bacaan, usai pengenalan melalui buku bergambar, secara bertahap, anda dapat mengenalkannya pada buku cerita dengan teks yang lebih banyak, yang tentunya masih dibacakan oleh orang tua atau pengasuhnya. Belakangan ini, buku cerita untuk anak juga sudah memiliki banyak fitur yang menarik, seperti buka-tutup, geser, pop-up, dsb. Selain buku bergambar dan buku cerita, anak juga dapat dikenalkan dengan buku aktivitas untuk membuatnya senang bermain bersama buku, dengan fitur seperti wipe and clean untuk latihan menulis, mewarnai, gunting-tempel, dll. Kelak, dengan semakin banyak hal yang bisa ia dapatkan dari aktivitas membaca buku, semakin tinggi minatnya untuk mampu membaca secara mandiri. Ketika anak sudah mampu membaca bukunya sendiri, ia akan bersemangat untuk membaca berbagai buku tanpa gambar untuk mengetahui isi buku tersebut. Berbagai jenis buku pun dapat anda tawarkan untuk memperkaya wawasannya. Atau jangan-jangan anda yang akan kewalahan dengan tingginya semangat membaca buku anak sehingga ia minta dibacakan buku berulang kali atau mengajukan pembelian buku baru. Meskipun demikian, jika dibandingkan aktivitas lainnya, rasanya kegiatan membaca buku yang dapat berdampak pada meningkatnya kecerdasan anak ini layak diperjuangkan bukan?!

Referensi
2.       Kirsch, I., de Jong, J., Lafontaine, D., McQueen, J., Mendelovits, J., & Monseur, C. (2002). Reading for change: Performance and engagement across countries: Results from PISA 2000. Paris, France: Organization for Economic Co-operation and Development (OECD).

Sabtu, 28 Desember 2019

RPTRA, Oase Keluarga di tengah Gegap Gempitanya Ibukota


Bagaimana liburan anda? Menyenangkan? Bagi keluarga dengan anak berusia balita, pergi ke taman bermain merupakan salah satu pilihan menyenangkan untuk mengisi waktu liburan. Di taman bermain, anak cenderung bebas beraktivitas fisik sehingga dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk banyak bergerak. Selain taman bermain berbayar di berbagai pusat perbelanjaan, ternyata banyak juga taman-taman gratis yang disediakan oleh pemerintah, contohnya RPTRA di Jakarta.

RPTRA yang tersebar di Jakarta nampaknya memiliki standar fasilitas yang diseragamkan dan tentunya sangat terawat, sehingga ke RPTRA manapun kita pergi akan kita temui area playground, aula atau pendopo dengan sepasang ondel-ondel berkain batik motif Betawi, perpustakaan kecil yang dilengkapi dengan permainan bongkar pasang, lapangan dengan tribun, area bercocok tanam dengan hidroponik sebagai salah satu metode yang dipakai, area berbatu dengan pegangan tangan yang biasa dimanfaatkan para lansia untuk refleksi kaki, ruang laktasi, toilet dan kantor administrasi pengelola. Pada RPTRA yang memiliki area lebih besar, seperti RPTRA Muawannah di Jagakarsa, bisa juga kita temui kolam ikan, dimana anak-anak juga bisa ikut memberikan pakan ikan jika datang pada pagi hari. Di RPTRA Betawi Ngumpul, masih di bilangan Jagakarsa, bahkan lokasinya bersebelahan dengan kolam pemancingan yang cukup besar dan bisa diakses dari RPTRA melalui sebuah pintu kecil.

Melalui fasilitas yang ada, dapat kita bayangkan aktivitas apa saja yang bisa dilakukan disana. Anak-anak dapat dengan bebas bermain di area playground yang berisi ayunan, prosotan, jungkat-jungkit, maupun panjat tebing mini. Anak-anak dapat menikmati area permainan sepuasnya pada jam operasional RPTRA tanpa harus mengkhawatirkan hitungan jam seperti pada taman bermain berbayar. Aula terbuka sering dimanfaatkan untuk senam para Ibu, latihan menari, latihan bela diri, tempat pertemuan warga untuk acara edukasi, posyandu maupun pasar murah yang kerap dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI, bahkan sesi outing SD, SMP maupun SMA sekitar. Pada beberapa momen, terlihat beberapa mahasiswa juga melakukan kegiatan pengabdian masyarakat maupun riset di aula terbukanya.

Area perpustakaan juga merupakan salah satu spot favorit anak-anak karena di tempat ini mereka dapat mengakses berbagai buku bacaan bermutu tanpa harus mengeluarkan biaya dan membaca sepuasnya di ruangan ber-AC tersebut. Perpustakaan yang selalu dilengkapi dengan permainan bongkar pasang sebuah merk mainan ternama ini pun selalu menarik perhatian anak-anak untuk mengekspresikan daya imajinasi mereka terhadap ruang dan bentuk.

Area bercocok tanam di RPTRA yang cukup luas memberikan kesempatan bagi pengelola untuk menanam berbagai tanaman bermanfaat. Ketika musim panen tiba, pengelola tidak segan membaginya kepada warga yang kebetulan saat itu sedang berada di RPTRA. Area hijau ini juga menciptakan suasana teduh di pagi dan sore hari dan cukup menyejukkan di siang hari yang terik.
Dengan pagar yang hanya cukup untuk uekuran motor, meskipun areanya terbilang luas, RPTRA pada umumnya tidak menyediakan lahan parkir untuk mobil. Besar kemungkinan hal ini karena RPTRA memang diperuntukkan untuk masyarakat menengah ke bawah, sehingga RPTRA selalu berlokasi di area padat penduduk dengan jalan yang tidak cukup luas. Meskipun demikian, siapapun boleh ke RPTRA, sesekali berjalan kaki atau sambil mendorong kereta bayi  bersama anak-anak tidak masalah bukan?

Tertarik mengajak putra-putri anda ke RPTRA? Coba googling RPTRA terdekat di sekitar anda, dan mungkin anda akan betah berlama-lama menemani anak-anda bermain disana, sambil membaca buku atau hanya duduk dan merasakan semilir angin segar yang menenangkan jiwa.