Sabtu, 03 November 2018

Memorable Place called Hutan Gunung Situ Lembang


“Duaaarrrrrr…”

“Tiaraaaaappp… Berlindung….”

Terdengar beberapa suara memberi komando. Tidak perlu menunggu dentuman granat kedua kalinya, kami semua langsung berlari mencari tempat perlindungan. Aku tak bisa berpikir dengan jelas saat itu, tetapi rasanya mengikuti para senior dengan latar belakang tentara cukup masuk akal kulakukan dalam kondisi seperti itu. Kini aku berdiri di balik pohon besar, mengatur nafas yang tersengal. Di sebelahku ternyata komandan reguku, cukup menenangkan bagiku saat itu.

Tak lama kemudian terdengar sirene yang diikuti suara keras dari sebuah toa.
“Semua berkumpul di lapangan”, dengan nada tegas.
Tanpa banyak kata, aku dan teman-temanku bergegas turun menuju lapangan, melewati bukit-bukit yang cukup terjal, menjauhi aula yang baru saja kami tempati.

Oh Tuhan, rasanya baru tadi aku bisa makan dengan sedikit tenang karena kecepatan makanku mulai terlatih disini, yang mengharuskan makanan habis tanpa sisa dalam kecepatan yang tak terbayangkan olehku sebelumnya. Tetapi kini lututuku sudah dibuat lemas lagi dengan granat dan sirine. Apa lagi yang akan kuhadapi setelah ini?
***

“Mba, dengar-dengar kita mau diajak ke Akmil (Akademi Militer) di Magelang ya? Naik Hercules katanya”, tanya Mas Wahyu padaku.
“Oh iya, Mas? Saya malah belum dengar apa-apa. Wah seru dong, saya gak kebayang naik Hercules, pasti keren sekali. Itu pesawat tentara yang biasa dipakai penerjun kan ya?”, aku begitu antuasias siang itu. Bayanganku tertuju pada pesawat dengan kursi berhadapan yang biasa digunakan para tentara untuk melakukan aksi dari udara. Tentu aku belum pernah melihatnya langsung, tetapi rasanya beberapa iklan komersial di televisi ataupun beberapa pertunjukkan tentara menggambarkan apa yang kubayangkan saat itu.
“Ndak jadi, Mba. Sepertinya istana tidak mengizinkan, jadi mungkin dicari tempat lain”, Pak Bima, komandan reguku, atau biasa disebut Danru berkomentar.
“Oh begitu..” kutanggapi dengan nada kecewa, mengingat bayangan tadi tentu akan menjadi penutup yang sempurna perjalanan kami dua minggu ini di Sentul.

Usai seleksi selama seminggu pertama, kami lanjut mengikuti program kepemimpinan. Tidur di barak-barak yang biasa digunakan para tentara sebelum pengiriman mereka ke medan juang, jogging pagi mengitari area pelatihan dilanjutkan apel pagi, dan coffee break dengan diskusi berbobot usai mengikuti talkshow dari pembicara-pembicara hebat di bidangnya, rasanya akan menjadi memori yang berbekas di 109 kepala peserta acara ini.

Rekan-rekanku datang dari berbagai latar belakang, baik sipil maupun tentara. Mendengar cerita mereka, selalu mengundang decak kagum. Mereka begitu hebat di bidang yang mereka geluti, seperti Pak Ardy yang merupakan PNS di sebuah daerah di Jawa Timur yang mampu menghasilkan persilangan udang dengan kualitas terbaik dan siap impor, kemudian ada Mas Riko yang menggeluti kecerdasan artifisial sehingga melahirkan berbagai macam robot pintar, pun dengan Amira, wanita yang sedang hamil muda ini ternyata adalah seorang sociopreneur. Apalagi bapak-bapak TNI Polri yang kini sedang berjibaku bersama, pangkat mereka tinggi-tinggi, namun aura kepemimpinan berbalut rendah hati justru yang terasa oleh kami. Dibandingkan aku yang saat itu baru menapaki karir yang juga belum bisa dibilang gemilang, rasanya aku masih harus banyak belajar dari mereka.
***

“Pak, kita jadinya ke Lembang? Ndak jadi ke Magelang?” tanyaku pada komandan grupku yang merupakan angkatan laut.
“Iya, kita akan naik tronton ke Gunung Hutan Situ Lembang”, jawabnya lugas.
“Hebat nanti petualangan kita ini, kita akan pergi ke tempat tentara-tentara terbaik di negeri ini dilatih”, ujar seorang rekan grupku yang lain, yang berlatar belakang angkatan darat.
Seperti menyadari kegelisahanku mendengar frase tempat terbaik para tentara dilatih, yang berarti tempaan mereka pasti luar biasa, dan itulah yang akan kami hadapi, salah seorang rekan grupku menenangkanku.
“Ndak usah takut ya, Mba, pokoknya ikuti saja instruksi yang ada”, pesan bapak berumur lima puluhan dengan latar belakang angkatan udara ini padaku, sambil tersenyum.
***

Aku tidak menikmati film horror, kalaupun terpaksa menonton, biasanya tangan rekanku habis kucengkeram berkali-kali.
Tetapi kali ini berbeda.
Mungkin karena kami diamanahkan sebagai “caraka” – pembawa pesan bangsa – dengan helm tentara di kepala, godaan macam pocong tergantung di atas pohon, batu nisan yang menyala di tengah pekatnya hutan, dan semerbak menyan bisa dilalui dengan Laa haula wa la quwwata illa billah.
Berjalan cepat, merangkak, kemudian jatuh bangun berkali-kali karena medan yang ditempuh benar-benar sempurna kegelapannya, kadang terperosok menabrak pohon, atau justru mencipak sungai, selama berpegangan pada tali, aku terus mencoba bertahan. Meskipun harus memeluk pohon yang berdiameter seluruh rentangan tangan, aku tak berani sedikitpun melepaskan tali dari genggaman. Kepanikan ketika tali terputus langsung terbayar tunai dengan meluncur tepat menuju kubangan air dengan sambungan tali yang telah menanti. Sejuknya Situ Lembang bersepakat dengan air dalam kubangan menyengatkan dingin yang teramat sangat. Namun perjalanan jauh yang menanti di hadapannya cukup menghangatkan badan lagi.

Saat perjalanan terasa begitu melelahkan, suara yang terdengar hanya desah nafas sendiri yang tersengal, sempat terpikir mungkin perjalanan ini menggambarkan perjuangan perkuliahan yang akan ditempuh. Jatuh bangun menegakkan cita-cita untuk berderma pada Ibu Pertiwi.

Ada cahaya, setitik harapan bagiku yang sudah mulai kepayahan.
Namun ternyata untuk mencapai titik itu, aku harus berputar cukup jauh, menyisakan tenaga yang nyaris lenyap sesampainya di Posko berpenerangan.

“Janganlah lupa pada bangsa sendiri…. Bangsa Indonesia butuh generasi-generasi penerus perjuangan… Kalau bukan kita siapa lagi”, begitulah bunyi pesan yang harus kubawa dalam hati untuk dilaporkan pada Pelatih di Posko dengan penerangan. Lengkap, tanpa satu kata pun tertinggal, tanpa satu tanda baca pun terlewatkan.

Kayu api unggun sudah bergemeletakan menanti kami, yang dalam sehari sudah dua kali bermandi lumpur kubangan dan Situ. Tak perlu ditanya apa warna pakaian kami saat ini, rasanya bergeletakkan di tanah pun tak akan ada yang menyadari, meskipun aslinya kaos kami berwarna asal merah terang. Sambil menanti caraka lain, secangkir minuman hangat cukup menenangkan perut kami. Tidak sedikit yang menyerah di tengah jalan, namun lebih banyak caraka yang berhasil menuntaskan perjuangan, hingga mengundang decak kagum para bapak dari TNI Polri melihat rakyat sipilnya cukup tangguh menempuh aral melintang. Perjalanan malam hingga dini hari itu ditutup dengan mencium Sang Saka Merah Putih secara bergantian di sisi api unggun yang menyala besar, oleh mata yang basah karena cintanya pada Ibu Pertiwi.

Tidak seperti saat berangkat, kali ini tidak ada yang bersuara di tronton yang membawa kami dari Lembang, semua tertidur pulas kelelahan. Semoga esok, saat kami sampai di Sentul, kami mampu kembali tersenyum ketika bertemu dengan Bapak Presiden di penghujung masa baktinya selama sepuluh tahun memimpin negara ini, untuk melepas kami, para awardee.

Salam hormat kepada para Pelatih dan Patriot di berbagai penjuru nusantara.

*ditulis dalam rangka One Week One Writing Kelas Minat Menulis Ibu Profesional Depok

Sabtu, 27 Oktober 2018

Memorable Childhood Memories: Menemani Ibu Berbelanja


Assalamualaikum Bu,
Gimana kabar Ibu saat ini?
Sudah ndak sakit lagi ya, alhamdulillah :')

Bu, ternyata menjadi Ibu, berat ya..
Aku ndak kebayang ternyata serumit ini menjalani peran sebagai seorang Ibu, padahal kondisiku sekarang mungkin sudah jauh lebih baik dari yang Ibu dulu alami.

Sekarang ini, aku selalu meminta pemakluman pada suami ketika tidak bisa memasak atau mengurus rumah karena kesibukan merawat anak, padahal dulu aku selalu menuntut makanan lengkap setiap waktu makan tiba. Harus ada nasi, sayur, lauk dan tempe. Jika tidak ada tempe, bukan main kecewanya aku saat itu. Padahal dulu tidak ada gofood. Kalaupun ada warung nasi atau warteg, dengan pertimbangan uang yang saat itu Ibu miliki, tentu akan memberatkan sekali jika harus selalu membeli di luar. Maka memasak sendiri adalah pilihan satu-satunya yang tersisa, di sisa tenagamu usai berdagang di pasar. Maafkan aku ya, Bu..

Ibu, meskipun kadang aku malu mengakui bahwa Ibuku berdagang buah di pasar, sejujurnya aku selalu menanti saat akhir pekan tiba. Karena hanya hari minggu lah, ketika aku tidak bersekolah, aku bisa ikut Ibu berbelanja di Pasar Musi. Usai solat subuh, aku lihat Ibu sudah siap untuk berangkat, maka aku pun bersiap untuk turut serta. Di pagi yang dingin, aku kadang kesulitan menyejajari langkah Ibu yang begitu cekatan menuju angkutan umum yang akan membawa kita ke Depok Timur Dalam, lokasi Pasar Musi berada. Pasar Musi yang dulu tidak serapi sekarang, masih banyak genangan air dimana-mana. Maka melihat bagian belakang pakaianmu yang selalu kotor terkena cipratan air adalah pemandangan yang dulu terasa biasa, tetapi kini terasa begitu istimewa.

Berada selalu di sisi Ibu, aku mempelajari proses tawar-menawar di pasar, tentu setelah memilih buah-buahan dengan kualitas yang baik, entah dengan melihatnya maupun mengetuk-ngetuknya. Usai mendapatkan buah sejumlah yang Ibu butuhkan, maka Ibu akan mencari becak yang akan membawa kita dan hasil belanjaan ke Pasar Mini, Pasar dekat rumah kita, tempat Ibu berjualan. Namun menariknya, setiap aku menemani Ibu berbelanja, aku mengamati ada aktivitas khusus yang selalu Ibu lakukan. Sebelum kita menaiki becak itu, Ibu tak pernah lupa mengajakku ke arah pintu selatan pasar, membeli surabi. Tampilan surabi jaman dulu memang tidak se-ciamik sekarang yang disuguhkan dengan berbagai macam topping, hanya disirami santan, tetapi rasanya itu surabi terlezat yang pernah kumakan. Mungkin karena Ibu yang memberikannya, sebagai hadiah karena aku menemani Ibu berbelanja pagi itu. Usai mengantongi surabi hangat, dengan senyum terkembang khas anak-anak, maka aku pun mengikuti Ibu naik ke atas becak. Dikelilingi tandanan pisang dan pepaya, aku sangat menikmati udara pagi di Depok kala itu, di sampingmu.

Sesampainya di Pasar Mini, maka Bapak tukang becak pun membantu menurunkan belanjaan Ibu. Setelah merapikan tempat untuk berjualan, maka Ibu akan mulai menata dagangan. Meskipun seorang perempuan, Ibu cekatan sekali mengambil pisau di tas, kemudian memotong tandanan pisang, hingga menjadi sisiran yang siap dijual. Tak perlu bayangkan tas-tas bermerk ternama yang selalu menggantung di pundak Ibu. Itu hanya tas biasa, yang di dalamnya agak kotor, karena meskipun Ibu selalu berusaha melapisi pisaunya dengan kertas koran, dengan kondisi yang selalu terguncang karena dibawa kemana-mana, maka getah pisang dan buah-buahan lainnya pun sering menempel di tas. Tak ayal membuat bagian dalam tas Ibu terlihat lebih lusuh dibanding bagian luarnya yang terlihat lebih sedap dipandang.

Berjibaku dari subuh hingga zuhur di pasar, kemudian beristirahat sejenak hingga asar, lalu lanjut memasak dan mencuci hingga maghrib, rasanya cukup menjadi alasan kelelahan dirimu. Namun itu tak pernah terlontar dari bibirmu. Cukup berkumpul dengan keluarga selepas Isya, kehangatan keluarga kita begitu terasa. Sesekali kita berkumpul di beranda- tentunya tanpa direcoki benda mungil bernama ponsel pintar- menikmati sekuteng hangat dari tukang yang lewat atau gorengan pisang yang Bapak buat di tengah dinginnya malam di Depok kala itu. Sungguh aku bersyukur mengingat masa itu. Meskipun zaman dahulu belum ada sosial media ataupun kajian parenting kekinian, sesungguhnya Ibu dan Bapak telah menyuguhkan memori masa kecil yang begitu indah bagi kami, aku dan kedua adikku.

Aku tahu Ibu berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulangi didikan di masa kecil Ibu dulu, pun dengan Bapak. Jika dahulu Ibu dididik keras oleh Simbah Putri sehingga anak-anaknya tumbuh tangguh -namun karena rasa takut- Ibu justru menumbuhkan ketangguhan kami melalui kelembutan. Kegigihan Simbah Putri memang tak bisa dipungkiri menghasilkan berbagai warisan material yang bisa dinikmati anak cucu, namun kerja keras dan kesabaran Ibu dan Bapak juga telah mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi, di berbagai universitas terbaik, yang bahkan ber-skala dunia. Bukankan ilmu adalah warisan terbaik yang dibekalkan pada generasi selanjutnya?!

Saat ini, dan sampai kapanpun, kami memang tak akan mampu membalas kebaikan Bapak dan Ibu. Namun, semoga doa lirih yang selalu kami ucapkan usai solat, bisa menjadi salah satu wasilah kebahagiaanmu.
“Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka, seperti mereka menyayangi kami di waktu kecil”.

“..Sayangi mereka, seperti mereka menyayangi kami di waktu kecil”
Frase yang begitu indah, yang memacuku untuk juga mampu menyayangi dan menyuguhkan masa kecil yang menyenangkan bagi anak-anakku kelak, seperti Bapak dan Ibu telah mencontohkannya.

Saat ini, kita memang sudah sulit untuk bertemu pandang ya, Bu. Tetapi insyaallah, manisnya senyum Ibu akan selalu terukir di hati, meski kini hanya bisa membelai nisanmu.

Allahumaghfirlaha warhamha waafiha wa’fuanha..

*Ditulis dalam rangka One Week One Writing Kelas Minat Menulis IP Depok

Jumat, 19 Oktober 2018

Mengenal Rasulullah Lebih Dekat Melalui Tetralogi Muhammad

Seberapa inginkah kita mengenali seseorang yang diujung kematiannya justru mengkhawatirkan kita, ummatnya, yang bahkan belum pernah ditemuinya?
Seberapa jauh kita sudah mencari tahu lebih dalam sosok panutan yang hidupnya di dunia tidak bergelimang harta, tetapi rasa syukurnya jauh melebihi semesta, hingga bengkak di kaki tak terasa?

Saya berulang kali berusaha untuk membaca Sirah Nabawi, namun kelemahan diri ini selalu berujung pada kantuk yang luar biasa. Saya sangat menyukai aktivitas membaca, namun pada tulisan-tulisan yang monoton, harus saya akui butuh usaha yang lebih besar dari biasanya. Namun kali ini, izinkanlah saya berterima kasih pada Abah Tasaro GK, yang kepiawaiannya menulis biografi Sang Baginda Nabi dalam bentuk novel, mampu membuat saya ketagihan, seperti terkena candu dan terseret dalam pusaran sejarah di Padang Pasir ratusan tahun lalu.

Tetralogi Muhammad, seperti menjawab keingintahuan yang begitu besarnya pada Pemilik Sosok Suci, tanpa merasa digurui atau sedang diceramahi. Melalui petualangan Kashva, pemuda yang begitu meyakini akan hadirnya Sang Guru kehidupan, kita diajak untuk merasakan petualangan berat pencarian kebenaran. Dimulai dari biara di Persia, hingga ke Dataran Tinggi Tibet sampai akhirnya menapakkan kaki di kota terberkahi.

Kelincahan pemilihan diksi penulis biografi Rasulullah ini mampu menguatkan berbagai kisah penuh hikmah kehidupan Sang Junjungan sejak awal kelahirannya hingga pergiliran kepemimpinan setelahnya. Bahasanya yang renyah namun tetap memikat, mampu membawa pembaca seakan menyaksikan sendiri setiap kisah Rasulullah yang menguntai berjuta hikmah, dalam bentuk yang jauh lebih mudah dipahami.

Jika selama ini kita lebih banyak mendengar kisah kegagahan burung Ababil membawa bebatuan yang panasnya mampu menembus tubuh pasukan berkuda Abrahah, maka itu hanya satu pembuktian kebenaran perkataan Abdul Muthalib, bahwa Ka'bah adalah rumah Tuhan, maka Dia yang akan menjaganya. Selain itu, buku ini juga memaparkan penjagaan lain yang Dia tunjukkan ketika Mahmud, gajah terbesar yang dikendalikan sendiri oleh Abrahah dengan kecongkakannya untuk meruntuhkan Kabah, tiba-tiba terdiam, tak berminat meneruskan kehendak tuannya meratakan Kabah dengan tanah. Maka pergilah Abrahah hendak menyerang Kabah tanpa gajah kebanggaannya, walau pada akhirnya pasukan yang dipimpinnya tak berdaya, compang camping diburu para burung pembawa batu panas dari neraka.

Tak berselang lama, setelah peristiwa yang dikenal dengan sebutan Tahun Gajah itu, Aminah, seorang wanita yang bersuami pria mulia nan tampan seantero Mekah, melahirkan putranya yang bercahaya sejak dalam kandungan.

Bagaimana rasanya bermain bersama Rasulullah ketika usia balita? Syaimah dan Abdullah, kedua anak pasangan Halimah dan Harits, Ibu susuan Sang Nabi seperti mewakili kebahagiaan kita untuk bisa bersenda gurau bersama sosok cilik Sang Nabi. Kelak, bekas gigitan 'Saudara Mekah' di lengan Syaimah begitu ia syukuri dan rindui. Pun ketika Abdullah, balita yang menceritakan kejadian pada orang tuanya tentang pembelahan dada Sang Nabi oleh dua sosok berjubah putih, hati saya sebagai seorang Ibu, mampu memahami kecemasan dan kepanikan luar biasa Ibunda Halimah. Kisah awal pertemuan dengan Ibu susuan ini pun begitu istimewa, menyiratkan berbagai petuah luar biasa. Mempelajari makna pengasingan selama masa penyusuan bagi masyarakat Arab, hal yang tidak biasa dilakukan di budaya Indonesia, juga seakan mengeja pelajaran parenting terbaik diantara kegelisahan kita mendidik anak di zaman ini.

Kisah demi kisah terbentang indah, tetapi tak sedikit yang juga mengiris hati begitu dahsyatnya. Seperti ketika peristiwa pembunuhan terencana Pamanda Nabi, Hamzah - Pemilik julukan Singa Padang Pasir yang begitu melindungi keponakan tercintanya, oleh budak belian Wahsyi atas iming-iming kemerdekaan dari status budak dan limpahan emas permata dari seorang wanita penyair, Hindun. Tak terbayang kepiluan hati seperti apa ketika Sang Baginda menatap paman kesayangannya meninggal dalam keadaan terkoyak dadanya dan rusak beberapa organ tubuhnya.

Kelak, di kemudian hari, setelah kemenangan Islam melalui Fathu Makkah nya, kita saksikan orang-orang yang dulu begitu menyakiti Nabi, beberapa diantaranya berbalik menjadi penegak panji-panji Allah, termasuk Wahsyi. Terceritakan pula dengan begitu runutnya bagaimana seorang Panglima besar Quraisy yang begitu bersemangat mengalahkan Rasululllah di Perang Uhud hingga tersebar berita kematian Sang Pemilik wajah bercahaya, dalam beberapa masa setelahnya berubah haluan menjadi Sahabat Nabi yang paling diunggulkan dalam setiap penyusunan strategi dan eksekusi peperangan, Khalid bin Walid.

Kisah keempat Khulafaur Rasyidin pun disajikan dengan begitu apik. Kecintaan pada sahabat nabi utama turut membuncah dengan segala keutamaan dan karakter unik dalam diri masing-masing mereka, para Pemburu syurga.

Riset yang dikerjakan oleh penulis buku ini sungguh luar biasa. Kelak kita temukan dalam buku ini, bagaimana kehadiran Rasulullah SAW telah dinanti oleh umat di berbagai belahan dunia yang berpegang teguh pada kesucian kitabnya.

Lelaki itu dinubuatkan sebagai Astvat-ereta dalam Kitab Zardusht,

Maitreya dalam keyakinan Budha,
Himada dalam tradisi Kristen,
dan Lelaki Penggenggam Hujan dalam Hindu.
Dialah sang Al-Amin.


*ditulis dalam rangka One Week One Writing Kelas Menulis Ibu Profesional Depok


Rabu, 17 Oktober 2018

Sembelit pada Anak

Menjelang usianya 17 bulan, alhamdulillah Arsy hanya sekali mengalami diare, itupun hanya sehari. Namun, sembelit, berulang kali terjadi padanya. Awalnya ketika fase ASI eksklusif, sepuluh hari merupakan rekor terlama anak itu pup (Pada anak ASI eksklusif, 2 minggu masih dikatakan normal, sedangkan setelah MPASI pup normalnya terjadi setiap hari). Akan tetapi jika sampai seminggu belum pup, maka harus segera diberikan treatment. Bagi Arsy sendiri, jadwalnya bisa tiga, lima, bahkan seminggu sekali. Hati Ibu mana yang tenang melihat anak kesakitan dan keluar keringat sebesar jagung setiap kali mau pup.

Percayalah, saya sudah mengikhtiarkan berbagai hal untuk mengusahakan kesehatan anak, khususnya dalam hal pencernaannya. Pertama, di awal MPASI, saya selalu membuat jurnal makanan dan meyakinkan diri tidak ada menu dengan karakter pengeras feses yang double di hari itu. Misalnya, dalam menu empat bintangnya, saya tidak akan memberikan beras merah bersamaan dengan sayuran tinggi serat dan bahkan memadukannya dengan buah tinggi air, seperti buah naga, jeruk atau semangka. Selain itu, lemak tambahan juga harus selalu diberikan pada setiap sesi makan karena selain menambah unsur nutrisi, hal ini juga menghindari resiko konstipasi atau sembelit.

Kedua, berikan pijatan khusus dengan lembut di area perut. Selama anak masih mau disentuh oleh orang tuanya dan belum banyak bergerak mandiri, maka aktivitas memijat terasa sangat mudah. Kini, ketika anak sudah jauh lebih aktif, memijat tubuhnya hanya bisa dilakukan dengan optimal ketika ia sedang terlelap tidur. Beberapa kali saya memanggil terapis pijat, baik dari salon muslimah langganan maupun praktik perawat dan bidan yang membuka jasa pijat bayi. Qadarullah, semakin besar, Arsy makin tidak nyaman disentuh orang lain yang belum dikenalnya dengan dekat, jadilah hanya Ibunya yang bisa memijatnya. Pijatannya terdiri dari beberapa teknik. Pertama, berupa pijatan I Love You. Pijatan ini membantu pergerakan usus besar. Harapannya, feses dapat bergerak menuju anus melalui pijatan tersebut. Uniknya, ketika anak sedang belajar bicara, kegiatan ini terasa bergitu romantis, karena ia menirukan ucapan kita, seakan-akan diucapkan cinta olehnya :')
Pijatan lainnya adalah pijatan bulan sabit, dengan tujuan yang sama dari pijatan sebelumnya. Selain itu, juga terdapat pijatan pedal. Setelah tiga pijatan ini, bisa dipadukan dengan senam kayuh sepeda, dengan gerakan lutut mendekati perut secara bergantian kanan-kiri. Sama seperti sebelumnya, gerakan ini ditujukan untuk memperlancar pergerakan usus.

Ketiga, perbanyaklah minum air putih. Sayangnya, bagi saya, ini justru tantangan terberatnya, karena Arsy tidak begitu menyukai air putih. Berbagai cara minum, mulai dari sippy cup, sedotan hingga gelas beragam bentuk telah ditawarkan, namun pola minumnya masih moody. Saya sempat frustasi mengenai hal ini sampai saya browsing dan menemukan fakta bahwa saya tidak sendiri menghadapi dilema ini. Kabar baiknya, Arsy lebih banyak minum air putih setelah banyak beraktivitas fisik, sehingga main di luar sambil membawa botol minum bisa menjadi langkah ampuh meningkatkan intake cairannya.

Keempat, jangan lupa berdoa. Bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat meminta pertolongan. Saat saya merasa begitu frustasi dan mulai menyalahkan diri sendiri karena merasa tidak mampu mengurus anak dengan baik, saya tanamkan lagi pemahaman pada diri saya, bahwa anak adalah amanah. Tugas kita sebagai orang tua adalah berikhtiar, perkara hasil serahkan kepada Pemiliknya. Saya ingatkan lagi diri ini tentang kisah para Nabi dan Sahabat Rasulullah SAW. Musibah dan cobaan pada mereka tidak lantas membuat mereka kehilangan iman, justru dengan perkara itulah mereka mendekatkan diri lagi padaNya, menghambakan diri, mengais pertolongan pada Yang Maha Berkuasa.

Terakhir, jika memang kondisi anak sudah terlihat kesakitan setiap kali mengejan dan jaraknya sudah lebih dari 7 hari (setelah masuk MPASI), maka pergilah ke dokter spesialis anak, maka anak  akan diberikan obat pencahar yang diberikan lewat anus. Dalam beberapa detik, obat ini akan segera bekerja. Arsy pernah saya berikan ini ketika saya sudah terlalu panik dan khawatir padanya, yang waktu itu masih beradaptasi dengan fase awal MPASI.

Pict from http://aksisadaralergi.org/pijat-untuk-anak-sembelit/


Games Mengenal Tentang Kamu

Jika memang ada pernyataan bahwa games "Mengenal Tentang Kamu" dalam Kelas Menulis Ibu Profesional Depok adalah tentang mendapatkan pasangan yang "seirama", rasanya pernyataan tersebut cukup tepat menggambarkan kondisi saya dan partner MTK saya.

Namanya Mba Putri Rahmayati, atau biasa dipanggil Puput. Wanita kelahiran Jakarta, 2 Maret 1989 ini memang lebih muda setahun dari saya, namun dengan pengalamannya mengurus dua putra dengan usia yang sudah lebih besar dari putri saya, saya seperti menemukan satu lagi sumber inspirasi parenting. Maka pertemuan dan diskusi selanjutnya merupakan lahan menggali ilmu bagi saya.

Iya, kami sama-sama berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga, profesi yang awalnya tak terpikirkan oleh kami ketika di bangku sekolah. Namun, seiring dengan perjalanan hidup dan pemahaman yang terus bertumbuh, kami memutuskan untuk bersungguh-sungguh mendedikasikan diri, ilmu dan bakti, pada keluarga kecil kami, saat ini. Karena tidak menutup kemungkinan, saat anak-anak telah mandiri kelak, kebermanfaatan diri dan keluarga kami dapat meluas, menyentuh sisi-sisi yang tak terjangkau sebelumnya. Seperti hipotesis yang diajukan oleh Pa Dodik pada Ibu Septi, founder Institut Ibu Profesional (IIP), "Bersabarlah dan bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, niscaya kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum terbalik". Tentu keputusan ini bukan perkara mudah, khususnya bagi keluarga kami, mengingat kami dibesarkan  dengan pemahaman bahwa kesuksesan ditunjukkan pada pencapaian karir.

Meskipun demikian, Mba Puput dengan bekal keilmuannya di jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB) mampu menunjukkan bahwa menjadi Ibu Rumah Tangga juga merupakan profesi yang mulia dan patut diperjuangkan. Dedikasinya untuk menyelenggarakan home education bagi kedua putranya tidak bisa dipandang sebelah mata. Berbagai kegiatan menarik nan edukatif telah dilakukan keluarga mereka, seperti berkunjung ke kandang sapi, berlatih membuat telur gulung, mencuci sepatu, berwudhu di masjid, dsb. Anak-anaknya pun cenderung menuruti Bundanya tanpa paksaan atau suara tinggi, melainkan dengan komunikasi produktif yang disertai penjelasan logis mengapa sesuatu boleh dilakukan, mengapa yang lain tidak dan apa konsekuensi jika melanggarnya. Sungguh, sebuah pelajaran yang berharga bagi saya yang masih merangkak mempelajari ilmu menjadi orang tua.

Maka tak heran, homeschooling menjadi pilihan keluarga Mba Puput dalam mendidik anak-anaknya. Meskipun awalnya gamang dalam memutuskan hal tersebut, ternyata keterlibatannya dalam perkuliahan di Kelas Bunda Sayang IIP justru menjadi batu pijakan merealisasikan idealisme homeschooling impiannya. Walaupun belum membuat kurikulum khusus homeschooling, Mba Puput fokus pada menyediakan aktivitas bermain yang bahagia, mempererat ikatan keluarga, melatih life skill dan mempertajam visi misi keluarga. Kini, selain sebagai fasilitator homeschooling anak-anaknya, Mba Puput juga aktif di blog dan vlog Youtube untuk mendokumentasikan aktivitas  keluarga mereka dan memetakan minat dan bakat anak-anaknya. Tertarik mencari tahu lebih jauh? Bisa kunjungi http://puputpembelajar.blogspot.com/ atau https://www.youtube.com/channel/UC1s_bAuwApxvPj9tFO9eGGA

Minggu, 14 Oktober 2018

Berhati-hatilah dengan Si Peniru Ulung

"Arsy, kenapa?" Aku dan suamiku sama-sama terkejut mendengar pecahnya tangis Arsy tiba-tiba. Kami pun bergegas mencari sumber suara. Ternyata gadis 1 tahun 6 bulan kami terjerembab di samping kasur depan lemari sambil memegang botol minyak zaitun. Tanpa aba-aba aku segera mengangkatnya dan menaikkannya ke kasur. Kuambil botolnya sambil berkata, "Tidak main minyak lagi ya", melihat banyak bekas minyak di lantai. Tidak, aku tidak memarahinya, karena kami berusaha untuk tidak meninggikan suara ketika mengingatkan anak. Seperti yang dijelaskan dalam buku Enlighthening Parenting, cukup tunjukkan dimana kesalahan anak dengan kalimat tepat, tanpa perlu berlebihan atau mengungkit-ungkit kesalahan sebelumnya. Kalau bisa, lanjutkan dengan pernyataan bahwa dia bisa melakukan sesuatu lebih baik. Sayangnya, aku dan suamiku yang sempat tertidur kemudian terbangun kaget, tidak melakukan hal kedua. 

Iya, kami tak sengaja tertidur siang itu. Aku kira, usai menyusu, Arsy bermain dengan Ayahnya, sehingga aku bisa sedikit mengendurkan ketegangan otot dengan napping di pojok tempat tidur. Ternyata, Ayahnya Arsy pun tertidur di ujung tempat tidur karena kelelahan usai berziarah dan mencuci motor pagi tadi. Sontak tangisan Arsy mengagetkan kami. 

Setelah memastikan Arsy tidak terluka, akupun mengambil lap berusaha menghilangkan bekas tumpahan minyak zaitun. Arsy pun sudah jauh lebih tenang, bahkan kembali main bersama Ayahnya. 

Tiba-tiba Ayahnya berkata, "Eh, Arsy pakaikan minyak di kaki Ayah ya?" sambil mengusap-usap telapak kakinya yang basah oleh minyak.
Arsy yang memang belum mampu berespon layaknya orang dewasa, sehingga ia hanya acuh tak acuh.
Kemudian Ayahnya melanjutkan, "Terima kasih ya, Arsy pakaikan minyak di kaki Ayah ya, seperti yang Ibu lakukan setiap malam ke Ayah ya.
Akupun hanya bisa termenung. Masyaallah. Anak sekecil itu memperhatikan dengan jeli setiap perbuatan kami, orang dewasa di sekitarnya. Iya, memang aku selalu berusaha memberikan minyak sambil memijati telapak kaki suamiku yang cenderung kering. Menurutnya, setelah diberikan minyak, telapak kakinya menjadi lebih lembab dan dia bisa istirahat dengan lebih nyaman.

Setelah kami ingat-ingat, ternyata sudah banyak sekali hal yang mampu ia tiru dari kami. Gerakan solat contohnya. Meskipun jauh dari kata sempurna, setidaknya ia belajar bahwa kami menegakkan badan, membungkukkan tubuh dan bersujud untuk menyembah Illahi Robbi. Begitupun dengan aktivitas membaca buku yang begitu ekspresifnya persis seperti cara kami membacakan buku untuknya ataupun saat kami bersuara khusus ketika membaca Alquran. Menyadari hal ini, hati kami pun tertunduk malu dan berharap Arsy hanya meniru kebaikan yang kami lakukan dan sambil terus berharap agar kami layak dicontoh dan dijauhkan dari segala kebatilan yang mampu ia tangkap dengan super brain di golden periodnya.

Duhai Allah yang Maha Pemberi Petunjuk, mampukan kami menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kami.
Wahai Allah yang Maha Pelindung, lindungi anak-anak kami dari segala macam contoh yang tidak baik.
Ya Allah, hanya PadaMu lah kami titipkan segala harap, agar anak-anak kami kelak tumbuh menjadi ana-anak yang solih/ah, sehat, berakhlak mulia, cerdas, berawawasan luas, berilmu tinggi, bermanfaat bagi umat serta senantiasa beroleh ridhaMu.

Sabtu, 13 Oktober 2018

Berbagi Mesin Cuci

Selalu ada pertama kali dalam hidup, apalagi ketika menjejakkan kaki di bagian bumi yang berbeda. Seperti kata pepatah, "Dimana langit dipijak, disitu langit dijunjung". Maka mempelajari budaya dan adab setempat merupakan hal yang harus dilakukan agar dapat diterima di masyarakat tersebut, tentu tanpa menegasikan syariat.

Kemerisik daun mapple yang mulai berguguran menggoda mata dan kakiku untuk mengambil salah satunya sehingga dapat kuperhatikan daun itu lebih dekat. Ah, cantik sekali memang bentuk dan warna dedaunan ini, tak heran Kanada menggunakannya di bendera negara mereka. Kuambil beberapa, lalu kusisipkan di kantong mantel musim dingin yang kukenakan. Mungkin daun itu bisa kukeringkan dan kujadikan pembatas buku yang cantik, pikirku. Langkahku melaju menuju pintu kaca gedung "Yocum Hall", asrama mahasiswa internasional, tempat sekitar 200 mahasiswa University of Arkansas tinggal. Gedung asrama lainnya tersebar di beberapa titik di universitas ini. Sebagian besar universitas di negara maju memang memiliki tower-tower asrama untuk mahasiswanya. Selain memastikan keamanan dan kelengkapan fasilitas bagi mahasiswanya, hal ini tentu menjadi sumber pemasukan yang menguntunkan bagi universitas bukan?!
Yocum Hall tempatku tinggal didominasi oleh mahasiswa berkebangsaan Amerika, meskipun ada beberapa mahasiswa dari negara lain yang tinggal disana, sebut saja Saudi Arabia, Turki, dan China, jumlahnya tidak seberapa.

Usai men-tap kartu mahasiswa di pintu masuk, pintu asrama itupun terbuka. Demi alasan keamanan, semua gedung di universitas memang dilengkapi fitur pengenalan identitas seperti itu. Dengan demikian, hanya pemilik kartu yang bisa mengakses gedung-gedung yang memang diperuntukan baginya. Sekilas menyapa Resident Assistant (RA) -mahasiswa merangkap asisten asrama- yang sedang berjaga, ternyata Ashlie, tetangga kamar sebelahku yang kini giliran berjaga. Ia gadis yang ramah dan open-minded. Pernah suatu kali di awal perkenalan kami, ia memuji jilbab bunga-bungaku, yang menurutnya cantik. Sejujurnya, sebelum sampai di negeri Paman Sam ini, aku sempat khawatir mengenai opini terorisme dikaitkan dengan jilbab. Namun bertemu dengan orang seperti Ashlie dan lainnya di tempat ini, kekhawatiranku perlahan memudar.

"Hi Vita, how're you doing? Everything is fine?" Sapa gadis dengan rambut pirang berkebangsaan Amerika itu.
"Yes, everything is fine as you see, and I'm good. What are you doing?" Tanyaku melihat kesibukannya di depan komputer.
"Well, I need to do a couple task after supervising the rooms", ia menjelaskan pekerjaan paruh waktunya, Resident Assistant. Selain menjadi tempat bertanya para mahasiswa yang tinggal di asrama, mereka juga bertanggung jawab terhadap sarana di asrama. Ada beberapa cerita seru dan menyeramkan dari mereka, salah satunya ketika mereka memeriksa kamar mandi dan terdengar bunyi shower tetapi tidak ada orang disana, dan itu terjadi beberapa kali.

Akupun pamit padanya, untuk segera menuju laundry room di basement. Pagi tadi aku meletakkan pakaian kotor di mesin cuci. Seharusnya aku memindahkannya ke mesin pengering usai pakaian tersebut selesai di cuci, tetapi kali ini aku tidak bisa menunggu proses mencuci dan mengeringkan pakaian seperti sebelumnya. Aku baru ingat bahwa hari ini ada pertemuan dengan kakak-kakak di Permias (Persatuan Mahasiswa di Amerika Serikat) yang digelar di rumah salah satu mahasiswa master disana, sehingga aku bergegas pergi usai meletakkan cucian.

Sesampainya di laundry room, aku memeriksa nomor mesin cuci yang kupakai. Mesin tersebut masih menyala, namun sepertinya di dalam mesin tersebut bukan pakaianku. Sekilas aku memutarkan pandangan ke sekitar ruangan laundry itu. Berjejer sepuluh mesin cuci di sisi kiri dan sepuluh mesin pengering di sebelah kanan, dengan beberapa kursi panjang di tengahnya.  Lalu mataku menuju ke pojokan ruangan, ada sebuah meja dengan tumpukkan baju disana. Saat kudekati, akupun mengenali baju-bajuku. Rupanya ada orang lain yang sudah melanjutkan proses mencuci-keringkan baju-bajuku. Oh Tuhan, rasanya aku malu sekali.. Segera kukemasi pakaianku dan membawanya ke kamar.

Setelah beberapa kali menggunakan fasilitas laundry tersebut, akupun belajar bahwa siapapun yang akan menggunakan mesin cuci, maka dia bertanggung jawab untuk memindahkan pakaian yang ada di dalamnya (jika ada) ke mesin pengering. Begitupun jika ada yang ingin menggunakan pengering, maka ia harus memindahkan pakaian yang sudah dikeringkan ke meja di pojokkan, sehingga sirkulasi pakaian dapat berjalan dan tidak ada yang dirugikan. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap sarana umum di asrama kami, mengingat kami tak perlu lagi membayar setiap kami ingin mencuci atau mengeringkan seperti yang diterapkan di mesin cuci umum yang harus memasukkan koin sebelum menggunakan mesin cuci dan pengering. Mengingat hal ini, aku sering tersenyum menyadari bahwa pandangan miring mengenai keegoisan penduduk negara ini ternyata tidak cukup tepat untuk menggambarkannya. Mereka memiliki sistem, untuk menjaga setiap penduduknya mendapatkan hak nya, tanpa merugikan orang lain. Mungkin hal tersebut yang lebih tepat disematkan kepada mereka.

Belakangan aku juga menemukan fakta menarik, bahwa beberapa baris kursi di tengah ruang laundry tersebut bisa jadi sarana berkenalan dan bercengkrama mahasiswa yang mungkin tinggal di lantai-lantai yang berbeda, sambil menunggu proses mencuci, sekaligus menghilangkan kepenatan di kamar. Ada juga beberapa mahasiswa lain yang membawa buku ke ruang laundry ini. Di gedung ini memang juga tersedia ruang olahraga dan bermain musik, namun menghabiskan waktu menunggu tanpa melakukan apapun selain bercengkrama ternyata menarik juga untuk dilakukan.

Fayettevile, Autumn, 2009

*ditulis dalam rangka One Week One Writing Kelas Minat Ibu Profesional Depok


Jumat, 05 Oktober 2018

Tips Anak Sehat dengan Vaksin Tanpa Kantong Jebol

Dalam postingan kali ini, saya tidak akan membahas panjang lebar manfaat vaksin, apalagi pro kontra nya yang melibatkan anti-vaks. Duh, saya cuma mau ikhtiar agar anak sehat, dan alhamdulillah-nya dengan kemajuan teknologi, beberapa penyakit mematikan sudah tersedia vaksinnya. Selain melindungi anak-anak kita yang sehat agar tetap produktif, dengan memberikan vaksin kita juga membentuk kekebalan komunitas, khususnya bagi anak-anak yang tidak bisa memperoleh vaksin karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan.
Selain itu, kabarnya di beberapa negara maju seperti UK, USA dan UEA persyaratan masuk sekolah disana wajib mencantumkan data kelengkapan vaksin. Siapa yang tahu, anak-anak kita memperoleh rezeki menimba ilmu disana, mereka tak perlu menyalahkan orang tuanya karena persyaratan yang tidak lengkap. Mungkin bukan sekolah dasarnya, tetapi cerita seorang kawan yang hendak melakukan penelitan untuk program doktoralnya juga harus menunjukkan bukti kelengkapan vaksinnya, cukup membuktikan bahwa negara maju peduli dengan kesehatan rakyatnya melalui program vaksin ini. Maka apakah kita akan diam saja membiarkan kesempatan emas itu terlewat hanya karena satu ganjalan, tidak pernah vaksin?!

Disini, kita sepakat bahwa vaksin itu perlu. Mengingat sejauh ini saya bukan penerima manfaat asuransi swasta, maka upaya memvaksin anak perlu dipertimbangkan dengan seksama. Masalahnya, tidak semua vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu tersedia di Puskesmas dan gratis. Lalu bagaimana saya menyiasatinya?

Pertama, untuk vaksinasi dasar yang disediakan oleh Pemerintah, maka saya dapatkan di Puskesmas. Berbekal kartu BPJS dan beberapa jam menunggu antrian, alhamdulillah anak saya mendapatkan vaksinasi gratis dan insyaallah asli mengingat tidak pernah ada kasus vaksin palsu di Puskesmas ye kan?! Duh, biasanya kalau vaksin yang gratisan gitu pasti bikin demam. Oh please..demam itu tidak jahat, dia adalah upaya NORMAL tubuh dalam mengenali benda asing, jadi kalem aja menghadapinya. Mengutip pernyataan dokter anak terkenal di media sosial, dr.Apin, "kuncinya sabar dan gendong". Wajar ketika anak tubuhnya tidak nyaman menjadi rewel, maka yang dibutuhkan adalah kesabaran membersamai mereka dalam kondisi tersebut. Bagi saya sendiri, hari vaksin adalah hari bebas masak dan tugas rumah lainnya, sehingga saya bisa fokus mendampingi anak. Ketika demamnya terasa sekali, saya biasa melalukan skin to skin, pelukan ke anak tanpa pakaian. Saya dan anak tetap pakai baju tetapi gak dikancing :P. Kalau masih demam, bisa dilakukan terapi Tepid Water Sponge (TWS) metodenya para perawat untuk menurunkan demam dengan kompres air hangat di sekujur tubuh dengan lap basah, seperti memandikan tetapi tidak perlu diguyur, cukup dilap-lap saja. Cara ini membantu memperlancar peredaran darah sehingga memberi sinyal pada pengatur panas tubuh agar tidak terlalu tinggi. Terakhir, kalau masih rewel dan suhu tubuhnya di atas 38.5 derajat celsius untuk anak diatas usia enam bulan, maka boleh diberikan parasetamol. Tetapi gak usah dikit-dikit pake parasetamol ya. Balik ke konsep dasar, bahwa demam adalah cara tubuh merespon kondisi asing. Kan kita udah tau penyebabnya, kali ini demamnnya karena vaksin nih, jadi ya tinggal sabar aja, insyaallah dalam 24 jam udah normal lagi kok. Eh tapi kalau di puskesmas, nanti bisa ketularan orang sakit lho. Alhamdulillah, terima kasih kepada Pemkot Depok yang sudah menyediakan ruang bermain anak yang bisa sekaligus berfungsi sebagai ruang tunggu dan ruang menyusui sehingga anak bisa agak terlindungi dari kontaminasi penyakit.

Kedua, untuk vaksinasi yang direkomendasikan oleh IDAI tetapi tidak disubsidi oleh Pemerintah, maka saya mencari alternatif paling murah tetapi kualitasnya terjamin. (Mungkin perlu dicantumkan disclaimer dalam postingan ini bahwa tulisan ini murni, tanpa endorse-an dari manapun karena saya juga bukan siapa-siapa, hehe..) Saya merasa bersyukur dengan inisiatif dr. Piprim -dokter anak terkemuka- yang melalui kejeniusan beliau lahirlah Rumah Vaksin. Tempat ini akhirnya menjadi jawaban kegundahan hati para orang tua yang mau mengusahakan kesehatan anak dengan memberikan vaksin tetapi tidak memiliki pohon uang di rumahnya, hehe.. Bukaaan, jadi gini, kalau dibandingkan dengan biaya vaksin di RS swasta atau mungkin klinik pribadi dokter anak, vaksin di Rumah Vaksin bisa menghemat sekitar 30% mengingat tidak ada biaya jasa dokter. Biaya administrasi mungkin ada, tetapi tidak terlalu signifikan. Mengenai kontaminasi penyakit, hal tersebut juga sangat diminimalisasi dengan kita ke Rumah Vaksin mengingat yang datang untuk vaksin hanya anak-anak yang sehat toh?! Kabar baiknya, sudah banyak cabang Rumah Vaksin di berbagai daerah di Indonesia. Vaksinnya asli? Insyaallah terjamin, bahkan sebelum tindakan, kita dijelaskan dulu mengenai vaksin tersebut dan tanggal kadaluarsanya. Selain itu, layaknya konsul ke dokter, maka kita akan ditanya-tanya dulu mengenai kondisi anak, sambil dikaji riwayat vaksinasi dan tumbuh kembangnya. Usai vaksin, label vaksinnya ditempel di buku kesehatan anak. Itu yang ngasih vaksin dokter anak? Sejauh ini sepengetahuan saya tidak semua penanggung jawab Rumah Vaksin adalah dokter anak, tetapi mereka dibekali dengan pengetahuan khusus tentang anak. Dokter-dokternya pun mau dikonsulkan via ponsel jika orang tua ada pertanyaan, misal mengenai efek pasca vaksin, bahkan konsultasi terkait program vaksin pemerintah melalui ORI nya-yang jelas-jelas tidak akan suntik di Rumah Vaksin pun akan tetap dilayani oleh dokternya.

Demikian sedikit tips orang tua sayang anak tetapi gak punya pohon uang, eh maksudnya resourcenya terbatas :D
Dana boleh terbatas, tetapi wawasanmu haruslah melangit luas ^_^

Salam sayang untuk para generasi masa depan, yang dengannya kami titipkan harapkan.
Semoga segala ikhtiar dari kami para orang tua, menjadi bekalan yang baik bagi kalian menuai cita.

Jumat, 28 September 2018


Tiga Cara Semarakkan Tahun Baru Muharram-mu

Kalau selama ini kita terbiasa semangat menanti pergantian tahun di setiap malam 31 Desember, mungkin kita juga bisa kobarkan semangat yang sama di penghujung bulan Dzulhijjah, yaitu ketika hari Raya Kurban baru saja dilewati. Tepat setelah Dzulhijjah, datanglah bulan Muharram, tahun baru dalam kalender Islam yang perhitungannya mengikuti revolusi bulan, berbeda dengan kalender Masehi yang mengikuti perputaran matahari.

Memangnya apa istimewanya bulan Muharram ini? Sebelum penggunaan kalender khusus, Umat Islam menggunakan berbagai metode untuk menentukan waktu. Setelah Rasulullah wafat, khalifah kedua - Umar bin Khattab yang terkenal cerdas dan pemberani - mengusulkan system penanggalan yang seragam bagi Umat Islam. Maka diputuskanlah terbentuknya kalender Hijriyah yang dihitung berdasarkan waktu ketika Rasulullah berhijrah dari Mekah ke Madinah di tahun 622M. Selain itu, keistimewaan bulan Muharram ini bisa dilihat dari ayat berikut:
Surat at-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (mulia). Itulah (ketetapan) agama yang lurus." Keempat bulan utama itu terdiri dari Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan RajabNah, karena keutamaannya tersebut, terdapat larangan khusus di bulan Muharram, seperti dilarang berperang. Dan sebaliknya, beramal di bulan Muharram juga memiliki banyak nilai keutamaan seperti yang akan dibahas berikut. Apa saja sih kegiatan yang bisa membuat Muharram kita lebih semarak?

Pertama, lakukan puasa Assyura. Puasa ini jatuh pada hari kesepuluh di bulan Muharram. Keutaamaan berpuasa di hari Assyura bisa dilihat pada dua hadits berikut: “Puasa yang paling utama setelah puasa bulan ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut bulan muharam, dan sholat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.“ (HR.Muslim). “…Dan puasa di hari “Asyura” saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu (HR. Muslim).

Selain berpuasa, tentu banyak sekali amalan kebaikan yang bisa kita lakukan di bulan mulia Muharram, salah satunya dengan menyantuni anak yatim. Di Indonesia, sering kita temukan istilah “Lebaran Anak Yatim” pada bulan Muharram. Meskipun kebaikan kita pada anak yatim sebaiknya tidak hanya pada bulan ini, setidaknya Muharram bisa kita jadikan momentum untuk beramal lebih dari biasanya pada anak-anak yang telah kehilangan orang tuanya.

Terakhir, kalau kita terbiasa menyusun resolusi menjelang letusan kembang api pertanda pergantian tahun Masehi, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama untuk menyongsong Tahun Baru Islam?! Resolusi itu bisa diawali dengan mengevaluasi diri kita terlebih dahulu. Saatnya melihat kembali ke dalam diri. Apakah menurut kita, kita sudah menjadi hamba Allah yang baik, anak yang salih, pasangan hidup yang menentramkan, orang tua yang layak menjadi teladan bagi anak-anaknya, karyawan yang profesional dan evaluasi berbagai peran kita lainnya. Apresiasi segala kebaikan yang sudah ada, kemudian istighfar atas segala hal yang masih perlu diperbaiki, lalu bersegeralah menyusun strategi perbaikan diri. Tidak perlu muluk-muluk, bukankah sedikit kebaikan yang dilakukan rutin lebih baik dibandingan kebaikan yang hanya sesekali saja?! Mulai dari hal yang paling mudah untuk kita perbaiki, lalu tingkatkan perlahan, hingga kita sampai di titik kualitas diri yang kita harapkan.

Bagaimana, siap menyemarakkan Muharram-mu dengan amal dan resolusi hebat? Boleh loh di-share amalan unggulanmu di bulan Muharram ini atau resolusi menarikmu di tahun ini di kolom komentar. Semoga Muharram depan kan kita temui diri kita yang lebih baik dan beroleh ridha-Nya :)

Referensi dari berbagai sumber

Happy New Hijri Year 1440 (credit: iStock by Getty Images/AnnaPoguliaeva).

Rabu, 19 September 2018

Harapan pada Kelas Minat Menulis Ibu Profesional Depok


Apa yang dikhawatirkan dari seorang manusia yang telah terbiasa bergerak di ruang publik, kemudian memutuskan untuk membatasi geraknya di luar sana dikarenakan ada amanah lain yang jauh lebih besar untuk dipertanggungjawabkan di dalam rumah? Rasa berdaya. Perasaan ketidakberdayaan karena merasa tidak berbuat apa-apa bagi masyarakat perlahan tapi pasti dapat menurunkan rasa percaya diri. Perasaan itu nampaknya muncul pada hampir semua perempuan yang memutuskan untuk berfokus menjadi ibu rumah tangga, meninggalkan karir yang telah dibangun sebelumnya.

Beruntungnya Komunitas Ibu Profesional hadir di tengah kegundahan hati, memunculkan definisi seorang ibu yang lebih berkelas karena profesionalismenya, tanpa memandang apakah ibu tersebut bekerja diranah publik maupun domestik. Tidak hanya menyediakan tahapan pembelajaran melalui Institut Ibu Profesionalnya, komunitas ini juga menyediakan kelas minat bagi para anggotanya yang telah berhasil melalui program matrikulasi. Berbagai pilihan kelas minat disediakan sesuai kapasitas pengurus Komunitas ini di tingkat kota. Selain sebagai media pemberdayaan diri, terdapat beberapa kelas minat yang juga membantu anggotanya untuk meninggalkan legacy - warisan yang bermanfaat, salah satunya adalah Kelas Minat Menulis.

Menulis adalah cara manusia bertutur lewat tulisan. Karya tertulis para pencatat sejarah pula yang mengenalkan kita mengenai apa yang terjadi pada peradaban sebelumnya dan mengambil pemahaman darinya. Bagi seorang muslim, “Hikmah adalah barang hilang milik orang beriman. Dimana saja ia temukan, ambillah sebagai pelajaran” (HR.Tirmidzi). Melalui aktivitas menulis inilah hikmah tercatat untuk diambil pelajaran. Meskipun membaca dan menulis merupakan kemampuan mendasar yang harus dimiliki untuk memulai prosesi belajar, tidak semua manusia mampu merangkum hikmah dalam sebuah tulisan. Ada pengenalan simbol, pembentukan kata hingga pemaknaan kalimat yang terangkum dalam paragraph disana.

Bagi saya yang memutuskan untuk menjadi Stay at Home Mom, saya merasa aktivitas menulis inilah yang mampu menjadi legacy - warisan yang dapat saya berikan bagi umat, tanpa harus meninggalkan amanah utama saya saat ini sebagai Ibu Rumah Tangga. Maka kesempatan untuk bergabung dengan Kelas Minat Menulis tidak akan saya biarkan terlewatkan sia-sia. Harapan untuk bergabung dengan Kelas Minat Menulis ini menurut saya dapat dilihat dari dua manfaat utama menulis, yaitu bagi jiwa kita (internal) dan sekitar kita (eksternal). 

Dari sisi internal, kemampuan menulis dapat menjadi sarana perekaman memori dan penyaluran emosi yang cukup bersahabat. Pernahkah kita merasa tak mampu melakukan sesuatu tetapi pada kenyataannya kita berhasil hadir di garis finish? Bagaimana dulu saya memulainya ya? Apa yang menguatkan saya berjalan sejauh ini? Siapa yg pernah hadir dan mendukung saya ya? Pertanyaan-pertanyaan ini yang kerap mendorong saya untuk menulis, mencatat tiap fragmen kehidupan, agar tumbuh jiwa yang senantiasa bersyukur dan berterima kasih. Namun, menulis memoar bukan hanya perihal mencatat kenangan. Sayangnya, ia juga siap mengoyak segala emosi yang juga hadir dalam tiap peristiwa. Dan tidak semua manusia mampu memeluk berbagai emosi itu sebagai bagian dirinya yang utuh. Oleh karena itulah, ada secercah harap agar Kelas Minat Menulis mampu menuntun bagaimana menulis dapat sembuhkan luka juga rayakan bahagia, sepatutnya. Seperti yang dikatakan oleh Seno Gumira Ajidarma, “Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia”

Selain untuk diri sendiri, kemampuan menulis juga bermanfaat untuk orang lain., dengan ditunjang kemudahan akses teknologi saat ini. Menulis menjadi salah satu cara efektif berbagi informasi, bahkan membangun gerakan atau komunitas. Lihat saja berbagai tulisan yang viral pada media sosial. Mereka mendapatkan tempat di hati para pembacanya. Berbagai tema seakan memiliki pasarnya masing-masing. Perubahan perilaku umumnya mengikuti, seiring perkembangan pemahaman seseorang. Sayangnya, banyak juga tulisan yang 'seakan' memberitahukan kebenaran tetapi jauh dari kaidah benar itu sendiri. Hal itu bisa dilihat dari sumber tulisannya, cara penulis mengambil sudut pandang dan kesimpulan akhirnya. Hal ini juga lah yang saya harap ditumbuhkan di Kelas Minat Menulis, berupa kemampuan menulis topik umum yang tetap memperhatikan kaidah ilmiah penulisan karya tulis. Sudah sunnatullah hidup ini dikelilingi hal baik dan buruk. Jika kita tak mampu mencegah tulisan buruk menjadi viral, maka tugas kitalah memviralkan tulisan baik. 

Pada akhirnya, kemampuan menulis tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri sebagai pencatat kenangan, tetapi juga untuk orang lain sebagai sumber inspirasi. Dengan demikian, Kelas Minat Menulis sebagai wadah para ibu mengembangkan potensi menulisnya diharapkan mampu memfasilitasi potensi itu tumbuh subur dengan cara yang benar dan patut. Kelak, dimanapun ranah pengabdiannya, akan kita dapati para ibu berdaya membangkitkan peradaban yang jauh lebih baik melalui tulisan-tulisannya yang bernyawa.