Laman digital yang menjadi tempat berkisah dan berkarya seorang perempuan yang baru saja bertransformasi menjadi seorang Ibu ketika anak pertamanya lahir di penghujung Mei 2017. Semoga ada hikmah dan keberkahan di dalamnya.
Sabtu, 27 Oktober 2018
Memorable Childhood Memories: Menemani Ibu Berbelanja
Assalamualaikum Bu,
Gimana kabar Ibu saat ini?
Sudah ndak sakit lagi ya, alhamdulillah :')
Bu, ternyata menjadi Ibu, berat ya..
Aku ndak kebayang ternyata serumit ini menjalani peran sebagai seorang Ibu, padahal kondisiku sekarang mungkin sudah jauh lebih baik dari yang Ibu dulu alami.
Sekarang ini, aku selalu meminta pemakluman pada suami ketika tidak bisa memasak atau mengurus rumah karena kesibukan merawat anak, padahal dulu aku selalu menuntut makanan lengkap setiap waktu makan tiba. Harus ada nasi, sayur, lauk dan tempe. Jika tidak ada tempe, bukan main kecewanya aku saat itu. Padahal dulu tidak ada gofood. Kalaupun ada warung nasi atau warteg, dengan pertimbangan uang yang saat itu Ibu miliki, tentu akan memberatkan sekali jika harus selalu membeli di luar. Maka memasak sendiri adalah pilihan satu-satunya yang tersisa, di sisa tenagamu usai berdagang di pasar. Maafkan aku ya, Bu..
Ibu, meskipun kadang aku malu mengakui bahwa Ibuku berdagang buah di pasar, sejujurnya aku selalu menanti saat akhir pekan tiba. Karena hanya hari minggu lah, ketika aku tidak bersekolah, aku bisa ikut Ibu berbelanja di Pasar Musi. Usai solat subuh, aku lihat Ibu sudah siap untuk berangkat, maka aku pun bersiap untuk turut serta. Di pagi yang dingin, aku kadang kesulitan menyejajari langkah Ibu yang begitu cekatan menuju angkutan umum yang akan membawa kita ke Depok Timur Dalam, lokasi Pasar Musi berada. Pasar Musi yang dulu tidak serapi sekarang, masih banyak genangan air dimana-mana. Maka melihat bagian belakang pakaianmu yang selalu kotor terkena cipratan air adalah pemandangan yang dulu terasa biasa, tetapi kini terasa begitu istimewa.
Berada selalu di sisi Ibu, aku mempelajari proses tawar-menawar di pasar, tentu setelah memilih buah-buahan dengan kualitas yang baik, entah dengan melihatnya maupun mengetuk-ngetuknya. Usai mendapatkan buah sejumlah yang Ibu butuhkan, maka Ibu akan mencari becak yang akan membawa kita dan hasil belanjaan ke Pasar Mini, Pasar dekat rumah kita, tempat Ibu berjualan. Namun menariknya, setiap aku menemani Ibu berbelanja, aku mengamati ada aktivitas khusus yang selalu Ibu lakukan. Sebelum kita menaiki becak itu, Ibu tak pernah lupa mengajakku ke arah pintu selatan pasar, membeli surabi. Tampilan surabi jaman dulu memang tidak se-ciamik sekarang yang disuguhkan dengan berbagai macam topping, hanya disirami santan, tetapi rasanya itu surabi terlezat yang pernah kumakan. Mungkin karena Ibu yang memberikannya, sebagai hadiah karena aku menemani Ibu berbelanja pagi itu. Usai mengantongi surabi hangat, dengan senyum terkembang khas anak-anak, maka aku pun mengikuti Ibu naik ke atas becak. Dikelilingi tandanan pisang dan pepaya, aku sangat menikmati udara pagi di Depok kala itu, di sampingmu.
Sesampainya di Pasar Mini, maka Bapak tukang becak pun membantu menurunkan belanjaan Ibu. Setelah merapikan tempat untuk berjualan, maka Ibu akan mulai menata dagangan. Meskipun seorang perempuan, Ibu cekatan sekali mengambil pisau di tas, kemudian memotong tandanan pisang, hingga menjadi sisiran yang siap dijual. Tak perlu bayangkan tas-tas bermerk ternama yang selalu menggantung di pundak Ibu. Itu hanya tas biasa, yang di dalamnya agak kotor, karena meskipun Ibu selalu berusaha melapisi pisaunya dengan kertas koran, dengan kondisi yang selalu terguncang karena dibawa kemana-mana, maka getah pisang dan buah-buahan lainnya pun sering menempel di tas. Tak ayal membuat bagian dalam tas Ibu terlihat lebih lusuh dibanding bagian luarnya yang terlihat lebih sedap dipandang.
Berjibaku dari subuh hingga zuhur di pasar, kemudian beristirahat sejenak hingga asar, lalu lanjut memasak dan mencuci hingga maghrib, rasanya cukup menjadi alasan kelelahan dirimu. Namun itu tak pernah terlontar dari bibirmu. Cukup berkumpul dengan keluarga selepas Isya, kehangatan keluarga kita begitu terasa. Sesekali kita berkumpul di beranda- tentunya tanpa direcoki benda mungil bernama ponsel pintar- menikmati sekuteng hangat dari tukang yang lewat atau gorengan pisang yang Bapak buat di tengah dinginnya malam di Depok kala itu. Sungguh aku bersyukur mengingat masa itu. Meskipun zaman dahulu belum ada sosial media ataupun kajian parenting kekinian, sesungguhnya Ibu dan Bapak telah menyuguhkan memori masa kecil yang begitu indah bagi kami, aku dan kedua adikku.
Aku tahu Ibu berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulangi didikan di masa kecil Ibu dulu, pun dengan Bapak. Jika dahulu Ibu dididik keras oleh Simbah Putri sehingga anak-anaknya tumbuh tangguh -namun karena rasa takut- Ibu justru menumbuhkan ketangguhan kami melalui kelembutan. Kegigihan Simbah Putri memang tak bisa dipungkiri menghasilkan berbagai warisan material yang bisa dinikmati anak cucu, namun kerja keras dan kesabaran Ibu dan Bapak juga telah mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi, di berbagai universitas terbaik, yang bahkan ber-skala dunia. Bukankan ilmu adalah warisan terbaik yang dibekalkan pada generasi selanjutnya?!
Saat ini, dan sampai kapanpun, kami memang tak akan mampu membalas kebaikan Bapak dan Ibu. Namun, semoga doa lirih yang selalu kami ucapkan usai solat, bisa menjadi salah satu wasilah kebahagiaanmu.
“Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka, seperti mereka menyayangi kami di waktu kecil”.
“..Sayangi mereka, seperti mereka menyayangi kami di waktu kecil”
Frase yang begitu indah, yang memacuku untuk juga mampu menyayangi dan menyuguhkan masa kecil yang menyenangkan bagi anak-anakku kelak, seperti Bapak dan Ibu telah mencontohkannya.
Saat ini, kita memang sudah sulit untuk bertemu pandang ya, Bu. Tetapi insyaallah, manisnya senyum Ibu akan selalu terukir di hati, meski kini hanya bisa membelai nisanmu.
Allahumaghfirlaha warhamha waafiha wa’fuanha..
*Ditulis dalam rangka One Week One Writing Kelas Minat Menulis IP Depok
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar