Percayalah, saya sudah mengikhtiarkan berbagai hal untuk mengusahakan kesehatan anak, khususnya dalam hal pencernaannya. Pertama, di awal MPASI, saya selalu membuat jurnal makanan dan meyakinkan diri tidak ada menu dengan karakter pengeras feses yang double di hari itu. Misalnya, dalam menu empat bintangnya, saya tidak akan memberikan beras merah bersamaan dengan sayuran tinggi serat dan bahkan memadukannya dengan buah tinggi air, seperti buah naga, jeruk atau semangka. Selain itu, lemak tambahan juga harus selalu diberikan pada setiap sesi makan karena selain menambah unsur nutrisi, hal ini juga menghindari resiko konstipasi atau sembelit.
Kedua, berikan pijatan khusus dengan lembut di area perut. Selama anak masih mau disentuh oleh orang tuanya dan belum banyak bergerak mandiri, maka aktivitas memijat terasa sangat mudah. Kini, ketika anak sudah jauh lebih aktif, memijat tubuhnya hanya bisa dilakukan dengan optimal ketika ia sedang terlelap tidur. Beberapa kali saya memanggil terapis pijat, baik dari salon muslimah langganan maupun praktik perawat dan bidan yang membuka jasa pijat bayi. Qadarullah, semakin besar, Arsy makin tidak nyaman disentuh orang lain yang belum dikenalnya dengan dekat, jadilah hanya Ibunya yang bisa memijatnya. Pijatannya terdiri dari beberapa teknik. Pertama, berupa pijatan I Love You. Pijatan ini membantu pergerakan usus besar. Harapannya, feses dapat bergerak menuju anus melalui pijatan tersebut. Uniknya, ketika anak sedang belajar bicara, kegiatan ini terasa bergitu romantis, karena ia menirukan ucapan kita, seakan-akan diucapkan cinta olehnya :')
Pijatan lainnya adalah pijatan bulan sabit, dengan tujuan yang sama dari pijatan sebelumnya. Selain itu, juga terdapat pijatan pedal. Setelah tiga pijatan ini, bisa dipadukan dengan senam kayuh sepeda, dengan gerakan lutut mendekati perut secara bergantian kanan-kiri. Sama seperti sebelumnya, gerakan ini ditujukan untuk memperlancar pergerakan usus.
Ketiga, perbanyaklah minum air putih. Sayangnya, bagi saya, ini justru tantangan terberatnya, karena Arsy tidak begitu menyukai air putih. Berbagai cara minum, mulai dari sippy cup, sedotan hingga gelas beragam bentuk telah ditawarkan, namun pola minumnya masih moody. Saya sempat frustasi mengenai hal ini sampai saya browsing dan menemukan fakta bahwa saya tidak sendiri menghadapi dilema ini. Kabar baiknya, Arsy lebih banyak minum air putih setelah banyak beraktivitas fisik, sehingga main di luar sambil membawa botol minum bisa menjadi langkah ampuh meningkatkan intake cairannya.
Keempat, jangan lupa berdoa. Bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat meminta pertolongan. Saat saya merasa begitu frustasi dan mulai menyalahkan diri sendiri karena merasa tidak mampu mengurus anak dengan baik, saya tanamkan lagi pemahaman pada diri saya, bahwa anak adalah amanah. Tugas kita sebagai orang tua adalah berikhtiar, perkara hasil serahkan kepada Pemiliknya. Saya ingatkan lagi diri ini tentang kisah para Nabi dan Sahabat Rasulullah SAW. Musibah dan cobaan pada mereka tidak lantas membuat mereka kehilangan iman, justru dengan perkara itulah mereka mendekatkan diri lagi padaNya, menghambakan diri, mengais pertolongan pada Yang Maha Berkuasa.
Terakhir, jika memang kondisi anak sudah terlihat kesakitan setiap kali mengejan dan jaraknya sudah lebih dari 7 hari (setelah masuk MPASI), maka pergilah ke dokter spesialis anak, maka anak akan diberikan obat pencahar yang diberikan lewat anus. Dalam beberapa detik, obat ini akan segera bekerja. Arsy pernah saya berikan ini ketika saya sudah terlalu panik dan khawatir padanya, yang waktu itu masih beradaptasi dengan fase awal MPASI.
Pict from http://aksisadaralergi.org/pijat-untuk-anak-sembelit/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar