Seberapa jauh kita sudah mencari tahu lebih dalam sosok panutan yang hidupnya di dunia tidak bergelimang harta, tetapi rasa syukurnya jauh melebihi semesta, hingga bengkak di kaki tak terasa?
Saya berulang kali berusaha untuk membaca Sirah Nabawi, namun kelemahan diri ini selalu berujung pada kantuk yang luar biasa. Saya sangat menyukai aktivitas membaca, namun pada tulisan-tulisan yang monoton, harus saya akui butuh usaha yang lebih besar dari biasanya. Namun kali ini, izinkanlah saya berterima kasih pada Abah Tasaro GK, yang kepiawaiannya menulis biografi Sang Baginda Nabi dalam bentuk novel, mampu membuat saya ketagihan, seperti terkena candu dan terseret dalam pusaran sejarah di Padang Pasir ratusan tahun lalu.
Tetralogi Muhammad, seperti menjawab keingintahuan yang begitu besarnya pada Pemilik Sosok Suci, tanpa merasa digurui atau sedang diceramahi. Melalui petualangan Kashva, pemuda yang begitu meyakini akan hadirnya Sang Guru kehidupan, kita diajak untuk merasakan petualangan berat pencarian kebenaran. Dimulai dari biara di Persia, hingga ke Dataran Tinggi Tibet sampai akhirnya menapakkan kaki di kota terberkahi.Kelincahan pemilihan diksi penulis biografi Rasulullah ini mampu menguatkan berbagai kisah penuh hikmah kehidupan Sang Junjungan sejak awal kelahirannya hingga pergiliran kepemimpinan setelahnya. Bahasanya yang renyah namun tetap memikat, mampu membawa pembaca seakan menyaksikan sendiri setiap kisah Rasulullah yang menguntai berjuta hikmah, dalam bentuk yang jauh lebih mudah dipahami.
Jika selama ini kita lebih banyak mendengar kisah kegagahan burung Ababil membawa bebatuan yang panasnya mampu menembus tubuh pasukan berkuda Abrahah, maka itu hanya satu pembuktian kebenaran perkataan Abdul Muthalib, bahwa Ka'bah adalah rumah Tuhan, maka Dia yang akan menjaganya. Selain itu, buku ini juga memaparkan penjagaan lain yang Dia tunjukkan ketika Mahmud, gajah terbesar yang dikendalikan sendiri oleh Abrahah dengan kecongkakannya untuk meruntuhkan Kabah, tiba-tiba terdiam, tak berminat meneruskan kehendak tuannya meratakan Kabah dengan tanah. Maka pergilah Abrahah hendak menyerang Kabah tanpa gajah kebanggaannya, walau pada akhirnya pasukan yang dipimpinnya tak berdaya, compang camping diburu para burung pembawa batu panas dari neraka.
Tak berselang lama, setelah peristiwa yang dikenal dengan sebutan Tahun Gajah itu, Aminah, seorang wanita yang bersuami pria mulia nan tampan seantero Mekah, melahirkan putranya yang bercahaya sejak dalam kandungan.
Bagaimana rasanya bermain bersama Rasulullah ketika usia balita? Syaimah dan Abdullah, kedua anak pasangan Halimah dan Harits, Ibu susuan Sang Nabi seperti mewakili kebahagiaan kita untuk bisa bersenda gurau bersama sosok cilik Sang Nabi. Kelak, bekas gigitan 'Saudara Mekah' di lengan Syaimah begitu ia syukuri dan rindui. Pun ketika Abdullah, balita yang menceritakan kejadian pada orang tuanya tentang pembelahan dada Sang Nabi oleh dua sosok berjubah putih, hati saya sebagai seorang Ibu, mampu memahami kecemasan dan kepanikan luar biasa Ibunda Halimah. Kisah awal pertemuan dengan Ibu susuan ini pun begitu istimewa, menyiratkan berbagai petuah luar biasa. Mempelajari makna pengasingan selama masa penyusuan bagi masyarakat Arab, hal yang tidak biasa dilakukan di budaya Indonesia, juga seakan mengeja pelajaran parenting terbaik diantara kegelisahan kita mendidik anak di zaman ini.
Kisah demi kisah terbentang indah, tetapi tak sedikit yang juga mengiris hati begitu dahsyatnya. Seperti ketika peristiwa pembunuhan terencana Pamanda Nabi, Hamzah - Pemilik julukan Singa Padang Pasir yang begitu melindungi keponakan tercintanya, oleh budak belian Wahsyi atas iming-iming kemerdekaan dari status budak dan limpahan emas permata dari seorang wanita penyair, Hindun. Tak terbayang kepiluan hati seperti apa ketika Sang Baginda menatap paman kesayangannya meninggal dalam keadaan terkoyak dadanya dan rusak beberapa organ tubuhnya.
Kelak, di kemudian hari, setelah kemenangan Islam melalui Fathu Makkah nya, kita saksikan orang-orang yang dulu begitu menyakiti Nabi, beberapa diantaranya berbalik menjadi penegak panji-panji Allah, termasuk Wahsyi. Terceritakan pula dengan begitu runutnya bagaimana seorang Panglima besar Quraisy yang begitu bersemangat mengalahkan Rasululllah di Perang Uhud hingga tersebar berita kematian Sang Pemilik wajah bercahaya, dalam beberapa masa setelahnya berubah haluan menjadi Sahabat Nabi yang paling diunggulkan dalam setiap penyusunan strategi dan eksekusi peperangan, Khalid bin Walid.
Kisah keempat Khulafaur Rasyidin pun disajikan dengan begitu apik. Kecintaan pada sahabat nabi utama turut membuncah dengan segala keutamaan dan karakter unik dalam diri masing-masing mereka, para Pemburu syurga.
Riset yang dikerjakan oleh penulis buku ini sungguh luar biasa. Kelak kita temukan dalam buku ini, bagaimana kehadiran Rasulullah SAW telah dinanti oleh umat di berbagai belahan dunia yang berpegang teguh pada kesucian kitabnya.
Lelaki itu dinubuatkan sebagai Astvat-ereta dalam Kitab Zardusht,
Himada dalam tradisi Kristen,
dan Lelaki Penggenggam Hujan dalam Hindu.
Dialah sang Al-Amin.
*ditulis dalam rangka One Week One Writing Kelas Menulis Ibu Profesional Depok
Tidak ada komentar:
Posting Komentar