Membangun Karakter Anak melalui Dongeng
-Day 3-
Dongengnya masih seputar kisah keseharian, hihi.. Gpp ya..
Kali ini pakai tokoh Snow White dan Aurora, yang Ibu buat kan untuk Arsy.
Arsy masih agak sulit minum banyak, padahal system pencernaannya agak spesial, jadi masih perlu banyak encouragement. Nah, jadilah ibu bikin cerita Snow White sedang main bersama Aurora, trus bilang mau buang air, sudah ke kamar mandi, tapi masih sulit juga. Kemudian Aurora menyarankan untuk minum lebih banyak dan makan pepaya, alhamdulillah Snow White jadi mudah pup nya. Mau dong Arsy nya mengcopy apa yang dibilang Aurora 😂 Trus anaknya ketagihan minta Dongeng sepanjang hari. Mungkin karena cerita nya relate dengan kehidupan nya, mungkin karena ia senang menjadi pusat perhatian cerita Ibu nya, mungkin juga hanya karena ia senang bersama Ibu nya :") Ah, anak kecil semenyenangkan itu ketika diberikan sedikit saja kebahagiaan masyaallah ^_^
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
catatanibukbaru
Laman digital yang menjadi tempat berkisah dan berkarya seorang perempuan yang baru saja bertransformasi menjadi seorang Ibu ketika anak pertamanya lahir di penghujung Mei 2017. Semoga ada hikmah dan keberkahan di dalamnya.
Sabtu, 25 Januari 2020
Jumat, 03 Januari 2020
Catatan (tentang) Buku: 5 Guru Kecilku, Bagian II, penulis: Kiki Barkiah
Reading list tahun ini saya mulai dengan membaca buku 5 Guru Kecilku
Bagian II, souvenir yang saya dapat usai mengikuti acara ‘Ngobrol Seru Bareng Teh Kiki Barkiah’ yang digagas oleh komunitas
@kawan.ibu di Aula Rabbani Depok, 29 Desember 2019 lalu. Membaca buku ini tidak
seperti buku-buku sebelumnya yang bisa habis dalam beberapa saat. Butuh waktu untuk
merenung usai tiap membaca bagiannya.
Melalui buku ini, pembaca seperti diizinkan mengintip apa yang sebenarnya
terjadi di balik bangunan rumah Teh Kibar. Berbagai pertanyaan saya mengenai bagaimana
banyak keajaiban bisa terjadi di rumah Teh Kibar yang menerapkan homeschooling
untuk semua anaknya, sedikit menemui titik terang. Mengapa sedikit? Karena saya
yakin lebih banyak hikmah yang terserak melalui pengalaman yang dialami
langsung oleh penduduk di rumah penuh berkah itu. Saya sering bertanya apakah
semua anaknya memang sudah memiliki manner yang terjaga, pemahaman yang baik,
dan Teh Kibar nya memang telah memiliki kurikulum terstruktur untuk keseluruh
anaknya? Lalu bagaimana dengan pekerjaan rumahnya terselesaikan tanpa bantuan
ART maupun keluarga besar?
Kalau ditanya apa kekuatan terbesar mereka menjalani pola kehidupan yang
luar biasa, ternyata jawabannya sama dengan kita, yaitu Allah SWT. Bedanya,
mungkin kadar kepercayaan kita pada Allah, kebergantungan kita pada Allah, dan
kemampuan kita melibatkan Allah dalam setiap nafas kebaikan. Di buku ini, Teh
Kibar menunjukkan bahwa keluarganya benar-benar melibatkan Allah dalam setiap
urusannya. Hal ini tergambar dalam berbagai fragmen ketika ia mengajarkan
anak-anaknya dalam situasi full-day homeschooling, membahagiakan hati
anak-anaknya yang melakukan kebaikan, ataupun ketika menegur anaknya yang
berbuat kesalahan. Kalau selama ini kita membaca teks-teks parenting hanya berupa
teori, buku ini juga menuliskan percakapan yang benar-benar dipraktikkan di
keluarga mereka. Contohnya ketika panggilannya tak juga dihiraukan oleh anak-anaknya,
maka ia berdoa dengan suara yang bisa didengar oleh semua anak-anaknya, ‘Ya
Allah, jadikanlah lisan kami mengandung kebenaran dan mengajak kebaikan. Lisan
yang didengarkan dan dipatuhi anak-anaknya’. Tak ayal, anak-anaknya pun
bergegas memenuhi panggilan Ibunya karena hati mereka telah penuh dengan
kedekatan pada Allah, sebelum apapun.
Lalu apakah memang semua anaknya sudah memiliki manner yang baik?
Berulang kali Teh Kibar mengingatkan bahwa keluarganya juga manusia yang sedang
dan akan terus belajar, maka berbuat salah adalah wajar, tetapi harus bersegera
memperbaiki diri setelahnya. Memiliki lima (yang sekarang tujuh) anak tentunya
memberi warna yang berbeda-beda dalam setiap karakter individunya. Ia diberkahi
dengan anak yang cerdas dan selalu lapar ilmu pengetahuan baru -meski telah
mengikuti kurikulum dari virtual school yang disediakan pemerintah USA- yang
mau tidak mau juga mengakselerasi orang tuanya untuk layak mendampingi anak
cerdas. Keluarga mereka juga diberkahi dengan anak yang unik gaya belajarnya,
terlihat kurang bersemangat di awal dan selalu banyak alasan untuk mulai belajar.
Meskipun demikian, ketika ia sudah mulai belajar, ia dapat menguasai pelajaran dengan
pemahaman yang sangat baik dan durasi lebih cepat daripada yang dilalui
saudaranya. Episode tantrum yang kerap dikhawatirkan orang tua dan bagaimana
orang tua berespon terhadap kondisi itu, juga tidak luput dibahas dalam buku
ini.
Lalu bagaimana semua kegiatan pembelajaran homeschooling bisa berjalan
bersamaan dengan kegiatan domestic rumah tangga? Multi-tasking. Semua aktivitas
di rumah itu berjalan parallel. Ketika satu anak belajar, anak lain diberikan
kesempatan eksplorasi. Ketika sang Ibu menyiapkan makanan yang hanya
berlangsung kurang dari 30 menit, ia melakukannya sambil menyetel murotal atau
murojaah Alquran atau mendengarkan audio berbagai kajian. Ketika ia menyusui,
bisa sambil mendengarkan hafalan Alquran anak-anaknya atau membacakan buku.
Anak-anak juga saling membantu untuk menyelesaikan standar pagi-sore dan daily
plan-nya karena hiburan outing ke luar setiap harinya hanya dapat dilakukan
jika telah menyelesaikan standar tersebut dan tidak ingin ada saudaranya yang
tertinggal karena belum menyelesaikan tugasnya. Prinsip di rumahnya, tidak
boleh ada yang menganggur di rumah dan harus senantiasa menyibukkan diri dalam
kebaikan.
Memang terlihat berat sekali apa yang dikerjakan oleh Teh Kibar dan
keluarganya, tetapi cita-cita mereka juga memang begitu mulia, menjadikan
anak-anaknya generasi Islam yang gemilang, penghafal Alquran yang juga seorang
penemu yang temuannya membawa manfaat bagi umat. Mungkin berat bagi kita untuk
mencontohnya secara keseluruhan, namun mengaplikasikan sedikit demi sedikit
rasanya bisa kita lakukan untuk membangun generasi Islam yang lebih baik.
Selasa, 31 Desember 2019
1000 Buku Sebelum 5 Tahun
Gerakan membacakan seribu buku sebelum usia lima tahun, apakah itu tidak
terlalu berlebihan? Mari kita hitung. Jika dibagi dalam lima tahun, maka dalam
setahun, setidaknya hanya 200 buku saja yang perlu dibaca. DIbandingkan dengan 365
hari yang tersedia, maka jika kita membacakan sebuah buku setiap harinya saja,
hal tersebut sudah lebih dari cukup.
Kegiatan ini mungkin belum terlalu familiar di tempat kita, namun
ternyata gerakan ini sudah marak dilakukan di berbagai negara maju untuk
mendukung perkembangan anak secara optimal. Berbagai perpustakaan di
negara-negara tersebut kerap membuat tantangan untuk mendukung anak-anak
mengikuti gerakan membaca buku ini dengan reward
berupa mainan atau buku. Orang tua tentunya juga diharapkan berperan aktif
dalam gerakan peningkatan literasi ini, dengan membacakan buku nyaring (read-aloud) ke anak. Tidak perlu teknik
khusus, cukup luangkan waktu dan mulailah membacakan apa yang tertera pada buku
dengan sepenuh hati anda, sehingga anda dan anak dapat mengikuti cerita
tersebut dengan menyenangkan.
Membacakan buku di
usia dini dipercaya dapat menstimulasi otak anak. Otak yang mendapatkan
stimulasi memadai sejak awal akan membantu anak untuk mengelola informasi lebih
cepat dan tepat sehingga ia tumbuh cerdas dan kreatif. Hal ini juga diyakini membantu
anak untuk lebih siap memasuki dunia sekolah dan tumbuh menjadi pembelajar
aktif dan mandiri sepanjang hidupnya. Dalam sebuah penelitian, dampak tersebut dikarenakan
dalam aktivitas membaca di usia dini terdapat kegiatan mengenali huruf dan
suara yang ditimbulkannya, menstimulasi kecerdasan matematika logis
(membandingkan ukuran bunga, mencocokkan binatang dengan induknya, dll), menghubungkan
bacaan dengan kondisi di sekitar anak (“wah, bukunya cerita tentang banjir,
kemarin rumah kita juga banjir ketika hujan besar”) dan menjadikannya sebagai
dasar untuk kemampuan berpikir yang lebih kompleks di waktu mendatang1.
Dalam analisis hasil Programme for International Students Assessment (PISA)
yang melibatkan 32 negara, terdapat hubungan yang signifikan antara anak yang gemar
membaca dan variative jenis bacaannya, dengan nilai literasi membacanya dalam
PISA, terlepas dari bagaimanapun latar belakang social ekonominya2.
Kabar baiknya, gerakan seribu buku sebelum usia lima tahun ini tidak
mengharuskan anda membacakan seribu buku berbeda, tetapi bisa saja membacakan
buku yang sama berulang-ulang. Meskipun demikian, tidak dapat kita pungkiri bahwa
semakin beragam buku yang dibaca, maka akan semakin kaya wawasan dan kosakata
yang dimiliki anak. Dengan demikian, tidak berlebihan sekiranya kita akan
melihat anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang kaya gagasan di kemudian hari
dengan tabungan wawasan dan kosa katanya yang berlimpah.
Lalu bagaimana melakukannya? Mulailah sedini mungkin. Dalam sebuah penelitian3,
janin dalam kandungan sudah dapat mendengar suara anda. Selain percakapan
sehari-hari, anda dapat mengajaknya untuk mulai membaca buku dengan bersuara (read-aloud). Perhatikan responnya,
apakah ada tendangan dari dalam perut ketika anda mulai memainkan intonasi suara?
Pasti menyenangkan sekali bukan?!
Bagaimana jika anak anda baru berusia satu tahun, apakah mungkin
membacakan buku untuknya? Tentu. Anda bisa memulainya dengan membacakan buku
bergambar, dengan teks seminimal mungkin. Pada buku bergambar, yang merupakan
buku tahap awal pengenalan membaca, bisa saja dalam satu halaman buku hanya
terdapat gambar sepenuh halaman dengan satu-dua teks, seperti ‘seekor gajah’.
Gambar gajah itulah yang akan menarik perhatiannya. Ketika anda menceritakan tentang
gajah dengan berbagai imajinasi yang dapat anda perdengarkan pada anak,
disitulah ia akan mulai tertarik untuk duduk di pangkuan anda menyimak apa yang
anda ceritakan.
Namun, seperti yang
kita pahami bahawa rentang konsentrasi anak masih terbatas. Anak usia setahun
berarti baru bisa berkonsentrasi dalam satu menit, sedangkan anak usia dua
tahun, baru bisa berkonstentrasi selama dua menit, dan seterusnya. Oleh karena
itu, perlu dimaklumi jika anda mendapati aktivitas membaca buku ini tidak bisa bertahan
lama di awal. Ia hanya duduk sejenak sekitar satu dua menit, lalu kembali
bermain dengan mainannya. Tidak masalah, anda bisa terus membacakannya sambil
sesekali memanggil namanya untuk menarik perhatiannya. Atau anda sudahi, namun
lakukan beberapa kali sehari sehingga anak terbiasa dengan aktivitas membaca
buku tersebut. Atau bisa saja anda agendakan kegiatan membaca buku ini khusus
di penghujung hari sebelum tidur, sehingga ketika anak sudah merasakan
kesenangan ini, ia akan senantiasa menanti anda di tempat tidurnya untuk
membacakan buku sebelum terlelap ke alam mimpi. Namun, dalam sebuah penelitian,
durasi membacakan buku ini sebaiknya tidak kurang dari lima belas menit setiap
harinya secara berkelanjutan untuk mendapatkan manfaat yang optimal4.
Ada berbagai jenis buku yang dapat diberikan pada anak. Dari bahan
pembuatan buku, pada fase awal, buku yang dikenalkan sebaiknya memiliki materi
yang kuat seperti board book atau buku bantal sehingga tidak mudah disobek atau
digigit, sambil terus mengingatkannya untuk bersama-sama merawat buku yang dibacanya.
Dari isi bacaan, usai pengenalan melalui buku bergambar, secara bertahap, anda
dapat mengenalkannya pada buku cerita dengan teks yang lebih banyak, yang
tentunya masih dibacakan oleh orang tua atau pengasuhnya. Belakangan ini, buku cerita
untuk anak juga sudah memiliki banyak fitur yang menarik, seperti buka-tutup,
geser, pop-up, dsb. Selain buku bergambar dan buku cerita, anak juga dapat
dikenalkan dengan buku aktivitas untuk membuatnya senang bermain bersama buku, dengan
fitur seperti wipe and clean untuk latihan
menulis, mewarnai, gunting-tempel, dll. Kelak, dengan semakin banyak hal yang
bisa ia dapatkan dari aktivitas membaca buku, semakin tinggi minatnya untuk
mampu membaca secara mandiri. Ketika anak sudah mampu membaca bukunya sendiri,
ia akan bersemangat untuk membaca berbagai buku tanpa gambar untuk mengetahui
isi buku tersebut. Berbagai jenis buku pun dapat anda tawarkan untuk memperkaya
wawasannya. Atau jangan-jangan anda yang akan kewalahan dengan tingginya
semangat membaca buku anak sehingga ia minta dibacakan buku berulang kali atau
mengajukan pembelian buku baru. Meskipun demikian, jika dibandingkan aktivitas lainnya,
rasanya kegiatan membaca buku yang dapat berdampak pada meningkatnya kecerdasan
anak ini layak diperjuangkan bukan?!
Referensi
2. Kirsch, I., de
Jong, J., Lafontaine, D., McQueen, J., Mendelovits, J., & Monseur, C.
(2002). Reading for change: Performance and engagement across countries:
Results from PISA 2000. Paris, France: Organization for Economic Co-operation and Development
(OECD).
Sabtu, 28 Desember 2019
RPTRA, Oase Keluarga di tengah Gegap Gempitanya Ibukota
Bagaimana liburan anda? Menyenangkan? Bagi keluarga dengan anak berusia balita, pergi ke taman bermain merupakan salah satu pilihan menyenangkan untuk mengisi waktu liburan. Di taman bermain, anak cenderung bebas beraktivitas fisik sehingga dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk banyak bergerak. Selain taman bermain berbayar di berbagai pusat perbelanjaan, ternyata banyak juga taman-taman gratis yang disediakan oleh pemerintah, contohnya RPTRA di Jakarta.
RPTRA yang tersebar di Jakarta nampaknya memiliki standar fasilitas yang diseragamkan dan tentunya sangat terawat, sehingga ke RPTRA manapun kita pergi akan kita temui area playground, aula atau pendopo dengan sepasang ondel-ondel berkain batik motif Betawi, perpustakaan kecil yang dilengkapi dengan permainan bongkar pasang, lapangan dengan tribun, area bercocok tanam dengan hidroponik sebagai salah satu metode yang dipakai, area berbatu dengan pegangan tangan yang biasa dimanfaatkan para lansia untuk refleksi kaki, ruang laktasi, toilet dan kantor administrasi pengelola. Pada RPTRA yang memiliki area lebih besar, seperti RPTRA Muawannah di Jagakarsa, bisa juga kita temui kolam ikan, dimana anak-anak juga bisa ikut memberikan pakan ikan jika datang pada pagi hari. Di RPTRA Betawi Ngumpul, masih di bilangan Jagakarsa, bahkan lokasinya bersebelahan dengan kolam pemancingan yang cukup besar dan bisa diakses dari RPTRA melalui sebuah pintu kecil.
Melalui fasilitas yang ada, dapat kita bayangkan aktivitas apa saja yang bisa dilakukan disana. Anak-anak dapat dengan bebas bermain di area playground yang berisi ayunan, prosotan, jungkat-jungkit, maupun panjat tebing mini. Anak-anak dapat menikmati area permainan sepuasnya pada jam operasional RPTRA tanpa harus mengkhawatirkan hitungan jam seperti pada taman bermain berbayar. Aula terbuka sering dimanfaatkan untuk senam para Ibu, latihan menari, latihan bela diri, tempat pertemuan warga untuk acara edukasi, posyandu maupun pasar murah yang kerap dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI, bahkan sesi outing SD, SMP maupun SMA sekitar. Pada beberapa momen, terlihat beberapa mahasiswa juga melakukan kegiatan pengabdian masyarakat maupun riset di aula terbukanya.
Area perpustakaan juga merupakan salah satu spot favorit anak-anak karena di tempat ini mereka dapat mengakses berbagai buku bacaan bermutu tanpa harus mengeluarkan biaya dan membaca sepuasnya di ruangan ber-AC tersebut. Perpustakaan yang selalu dilengkapi dengan permainan bongkar pasang sebuah merk mainan ternama ini pun selalu menarik perhatian anak-anak untuk mengekspresikan daya imajinasi mereka terhadap ruang dan bentuk.
Area bercocok tanam di RPTRA yang cukup luas memberikan kesempatan bagi pengelola untuk menanam berbagai tanaman bermanfaat. Ketika musim panen tiba, pengelola tidak segan membaginya kepada warga yang kebetulan saat itu sedang berada di RPTRA. Area hijau ini juga menciptakan suasana teduh di pagi dan sore hari dan cukup menyejukkan di siang hari yang terik.
Dengan pagar yang hanya cukup untuk uekuran motor, meskipun areanya terbilang luas, RPTRA pada umumnya tidak menyediakan lahan parkir untuk mobil. Besar kemungkinan hal ini karena RPTRA memang diperuntukkan untuk masyarakat menengah ke bawah, sehingga RPTRA selalu berlokasi di area padat penduduk dengan jalan yang tidak cukup luas. Meskipun demikian, siapapun boleh ke RPTRA, sesekali berjalan kaki atau sambil mendorong kereta bayi bersama anak-anak tidak masalah bukan?
Tertarik mengajak putra-putri anda ke RPTRA? Coba googling RPTRA terdekat di sekitar anda, dan mungkin anda akan betah berlama-lama menemani anak-anda bermain disana, sambil membaca buku atau hanya duduk dan merasakan semilir angin segar yang menenangkan jiwa.
Minggu, 17 Februari 2019
Pekerjaan Ramah Ibu
Jika kita sudah terbiasa mendengar istilah "Harganya ramah di kantong" atau "Kota Ramah Anak", pernahkah terlintas dalam benak kita mengenai "Pekerjaan Ramah Ibu"? Saya pribadi, terpikir terminologi tersebut usai berdiskusi dengan Ibu angkat saya ketika short course di Amerika. Ide tersebut muncul setelah saya menanyakan kepada beliau bagaimana beliau mengelola amanah parenting selagi merintis karir sebagai seorang professional family nurse practicioner. Jawaban beliau kemudian menyisakan harap yang teramat besar dalam diri saya, mengingat hasil didikan beliau telah berhasil menjadi dua gadis muda yang tumbuh bahagia, sehat, cerdas, tangguh, berwawasan luas dan berkuliah di tempat ternama berbekal beasiswa prestasi yang kompetitif.
Menurutnya, ketika kedua putrinya masih kecil, beliau mengambil posisi sebagai part-time worker di sebuah klinik. Selain bisa berangkat lebih siang dan pulang lebih cepat daripada posisi full-timer, menyandang status part-timer memudahkannya untuk libur satu hari weekdays (selain weekend tentunya) sehingga dapat meluangkan waktu untuk kedua putrinya dengan lebih optimal. Pilihan hidupnya ini pun didukung oleh suaminya, yang kini menduduki posisi professor di sebuah universitas ternama di Negeri Paman Sam sana. Dukungan tersebut berupa membantu mengurus anak-anak usai pulang bekerja, seperti memandikannya, memberikan makan, membacakan buku, dll. Masih menurut sang Ibu, hal tersebut bukan perkara lumrah di kalangan masyarakat Amerika saat itu, namun mereka tetap melakukannya untuk mendukung semua anggota keluarga berkembang. Dukungan lain tentu saja datang dari lingkungan pekerjaan sang Ibu, dimana menurut perundang-undangan disana, adalah hal yang memungkinkan bagi seorang pekerja formal profesional untuk menjadi pekerja paruh waktu dengan alasan tertentu, misal mengasuh anak, merawat orang tua atau pasangan yang sakit, dll.
Memangnya mengapa seorang wanita perlu repot-repot untuk tetap bekerja? Menjawab pertanyaan ini, terdapat beberapa alasan yang dikemukakan oleh sang Ibu. Pertama, bekerja di luar membuatnya bahagia dan terpenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Menjadi perawat di Amerika adalah hal yang membutuhkan energi luar biasa, apalagi dengan pendidikan setara master yang dimiliki oleh sang Ibu, maka bekerja di ranah publik memberikannya kesempatan untuk mengaplikasikan ilmunya dan merasa bahagia dapat bermanfaat untuk orang lain. Kedua, berkerja di luar rumah memberikannya jeda terhadap kegiatan parenting. Hal ini bukan berarti ia tidak menyukai parenting, tetapi jeda memberikan kesempatan baginya untuk mengambil energi dari luar dan menyebarkannya di rumah. Ia mencintai anak-anaknya, kedua putrinya adalah dunianya dan hal terpenting dalam hidupnya, namun ia mengakui selalu berada bersama mereka 24/7 tidak menjamin kualitas pengasuhan yang dapat ia berikan lebih berkualitas dibandingkan ketika ia pulang bekerja dan telah selesai dengan kebutuhan dirinya. Ketiga, bekerja memberikannya kesempatan untuk menjadi partner yang setara bagi suaminya. Ia tidak terlalu merasa bergantung pada suaminya perihal finansial. Mungkin pada poin ini perlu ditekankan, bahwa semua yang dipaparkan disini sangat terkait dengan nilai dan kepercayaan yang dianut oleh seseorang dan diterapkan kekeluarganya. Dalam hal ini, keluarga angkat saya adalah keluarga Yahudi, maka prinsip mengambil yang baik dan sesuai, serta tinggalkan yang tidak sesuai, rasanya perlu diperhatikan.
Lalu bagaimana kondisi para Ibu di Indonesia saat ini? Dengan ketersediaan berbagai fasilitas, semakin banyak perempuan Indonesia yang mendapatkan pendidikan tinggi. Tak dapat dipungkiri, hal ini juga yang kemudian mendorong para Ibu untuk kembali ke rumah dan mendampingi tumbuh kembang putra-putrinya. Namun, tuntutan sosial agar para lulusan pendidikan tinggi tidak menggantunkan ijazahnya dan hanya menengadahkan tangan menanti belas kasihan suami, juga memunculkan drama baru mengenai Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga yang seharusnya tidak perlu ada jika tersedia sebuah sistem yang mampu menyediakan pekerjaan yang ramah bagi seorang ibu. Tidak ada yang salah menjadi online shopper karena hal tersebut adslah cara termudah seseorang mendapatkan penghasilan meskipun bekerja dari rumah, Namun, wanita pekerja formal seperti dokter, perawat, guru dll juga tentunya mengharapkan waktu yang lebih berkulitas untuk keluarganya dengan menjadi pekerja paruh waktu. Pekerjaan yang tetap memudahkannya menajalankan peran sebagai seorang Ibu tanpa meninggalkan identitias profesinya. Lalu bagaimana para Ibu di Indonesia bisa mendapatkan kesempatan untuk tetap menjadi seorang professional tanpa perlu menggadaikan peran pengasuhan, bahkan meningkatkannya. Jawabannya adalah sediakan sistem dan perundangan yang mendukung hal tersebut. Hal ini bisa dimulai dengan tersedianya hukum tertulis yang menyatakan bahwa pekerja formal profesional dapat berstatus sebagai tenaga paruh waktu tanpa mengurangi manfaat kepegawaian yang biasanya hanya dimiliki oleh pekerja berstatus full-timer. Selain itu, bangun supporting system yang mendukung seperti membangun pemahaman yang utuh kepada para pekerja mengenai hak dan kewajibannya, bahkan perlu disediakannya tempat penitipan anak yang aman dan berkulitas dengan posisinya yang mudah diakses dari tempat pekerjaan orang tua sehingga memudahkannya untuk berkomunikasi langsung dengan anaknya. Keluarga, sebagai supporting system utama, tentu tidak luput untuk memberikan dukungan bagi seorang ibu untuk tetap bertumbuh dengan bahagia sehingga dapat memberikan kebahagiaan bagi keluarganya pula.
Sabtu, 03 November 2018
Memorable Place called Hutan Gunung Situ Lembang
“Duaaarrrrrr…”
“Tiaraaaaappp… Berlindung….”
Terdengar beberapa suara memberi komando. Tidak perlu menunggu dentuman granat kedua kalinya, kami semua langsung berlari mencari tempat perlindungan. Aku tak bisa berpikir dengan jelas saat itu, tetapi rasanya mengikuti para senior dengan latar belakang tentara cukup masuk akal kulakukan dalam kondisi seperti itu. Kini aku berdiri di balik pohon besar, mengatur nafas yang tersengal. Di sebelahku ternyata komandan reguku, cukup menenangkan bagiku saat itu.
Tak lama kemudian terdengar sirene yang diikuti suara keras dari sebuah toa.
“Semua berkumpul di lapangan”, dengan nada tegas.
Tanpa banyak kata, aku dan teman-temanku bergegas turun menuju lapangan, melewati bukit-bukit yang cukup terjal, menjauhi aula yang baru saja kami tempati.
Oh Tuhan, rasanya baru tadi aku bisa makan dengan sedikit tenang karena kecepatan makanku mulai terlatih disini, yang mengharuskan makanan habis tanpa sisa dalam kecepatan yang tak terbayangkan olehku sebelumnya. Tetapi kini lututuku sudah dibuat lemas lagi dengan granat dan sirine. Apa lagi yang akan kuhadapi setelah ini?
***
“Mba, dengar-dengar kita mau diajak ke Akmil (Akademi Militer) di Magelang ya? Naik Hercules katanya”, tanya Mas Wahyu padaku.
“Oh iya, Mas? Saya malah belum dengar apa-apa. Wah seru dong, saya gak kebayang naik Hercules, pasti keren sekali. Itu pesawat tentara yang biasa dipakai penerjun kan ya?”, aku begitu antuasias siang itu. Bayanganku tertuju pada pesawat dengan kursi berhadapan yang biasa digunakan para tentara untuk melakukan aksi dari udara. Tentu aku belum pernah melihatnya langsung, tetapi rasanya beberapa iklan komersial di televisi ataupun beberapa pertunjukkan tentara menggambarkan apa yang kubayangkan saat itu.
“Ndak jadi, Mba. Sepertinya istana tidak mengizinkan, jadi mungkin dicari tempat lain”, Pak Bima, komandan reguku, atau biasa disebut Danru berkomentar.
“Oh begitu..” kutanggapi dengan nada kecewa, mengingat bayangan tadi tentu akan menjadi penutup yang sempurna perjalanan kami dua minggu ini di Sentul.
Usai seleksi selama seminggu pertama, kami lanjut mengikuti program kepemimpinan. Tidur di barak-barak yang biasa digunakan para tentara sebelum pengiriman mereka ke medan juang, jogging pagi mengitari area pelatihan dilanjutkan apel pagi, dan coffee break dengan diskusi berbobot usai mengikuti talkshow dari pembicara-pembicara hebat di bidangnya, rasanya akan menjadi memori yang berbekas di 109 kepala peserta acara ini.
Rekan-rekanku datang dari berbagai latar belakang, baik sipil maupun tentara. Mendengar cerita mereka, selalu mengundang decak kagum. Mereka begitu hebat di bidang yang mereka geluti, seperti Pak Ardy yang merupakan PNS di sebuah daerah di Jawa Timur yang mampu menghasilkan persilangan udang dengan kualitas terbaik dan siap impor, kemudian ada Mas Riko yang menggeluti kecerdasan artifisial sehingga melahirkan berbagai macam robot pintar, pun dengan Amira, wanita yang sedang hamil muda ini ternyata adalah seorang sociopreneur. Apalagi bapak-bapak TNI Polri yang kini sedang berjibaku bersama, pangkat mereka tinggi-tinggi, namun aura kepemimpinan berbalut rendah hati justru yang terasa oleh kami. Dibandingkan aku yang saat itu baru menapaki karir yang juga belum bisa dibilang gemilang, rasanya aku masih harus banyak belajar dari mereka.
***
“Pak, kita jadinya ke Lembang? Ndak jadi ke Magelang?” tanyaku pada komandan grupku yang merupakan angkatan laut.
“Iya, kita akan naik tronton ke Gunung Hutan Situ Lembang”, jawabnya lugas.
“Hebat nanti petualangan kita ini, kita akan pergi ke tempat tentara-tentara terbaik di negeri ini dilatih”, ujar seorang rekan grupku yang lain, yang berlatar belakang angkatan darat.
Seperti menyadari kegelisahanku mendengar frase tempat terbaik para tentara dilatih, yang berarti tempaan mereka pasti luar biasa, dan itulah yang akan kami hadapi, salah seorang rekan grupku menenangkanku.
“Ndak usah takut ya, Mba, pokoknya ikuti saja instruksi yang ada”, pesan bapak berumur lima puluhan dengan latar belakang angkatan udara ini padaku, sambil tersenyum.
***
Aku tidak menikmati film horror, kalaupun terpaksa menonton, biasanya tangan rekanku habis kucengkeram berkali-kali.
Tetapi kali ini berbeda.
Mungkin karena kami diamanahkan sebagai “caraka” – pembawa pesan bangsa – dengan helm tentara di kepala, godaan macam pocong tergantung di atas pohon, batu nisan yang menyala di tengah pekatnya hutan, dan semerbak menyan bisa dilalui dengan Laa haula wa la quwwata illa billah.
Berjalan cepat, merangkak, kemudian jatuh bangun berkali-kali karena medan yang ditempuh benar-benar sempurna kegelapannya, kadang terperosok menabrak pohon, atau justru mencipak sungai, selama berpegangan pada tali, aku terus mencoba bertahan. Meskipun harus memeluk pohon yang berdiameter seluruh rentangan tangan, aku tak berani sedikitpun melepaskan tali dari genggaman. Kepanikan ketika tali terputus langsung terbayar tunai dengan meluncur tepat menuju kubangan air dengan sambungan tali yang telah menanti. Sejuknya Situ Lembang bersepakat dengan air dalam kubangan menyengatkan dingin yang teramat sangat. Namun perjalanan jauh yang menanti di hadapannya cukup menghangatkan badan lagi.
Saat perjalanan terasa begitu melelahkan, suara yang terdengar hanya desah nafas sendiri yang tersengal, sempat terpikir mungkin perjalanan ini menggambarkan perjuangan perkuliahan yang akan ditempuh. Jatuh bangun menegakkan cita-cita untuk berderma pada Ibu Pertiwi.
Ada cahaya, setitik harapan bagiku yang sudah mulai kepayahan.
Namun ternyata untuk mencapai titik itu, aku harus berputar cukup jauh, menyisakan tenaga yang nyaris lenyap sesampainya di Posko berpenerangan.
“Janganlah lupa pada bangsa sendiri…. Bangsa Indonesia butuh generasi-generasi penerus perjuangan… Kalau bukan kita siapa lagi”, begitulah bunyi pesan yang harus kubawa dalam hati untuk dilaporkan pada Pelatih di Posko dengan penerangan. Lengkap, tanpa satu kata pun tertinggal, tanpa satu tanda baca pun terlewatkan.
Kayu api unggun sudah bergemeletakan menanti kami, yang dalam sehari sudah dua kali bermandi lumpur kubangan dan Situ. Tak perlu ditanya apa warna pakaian kami saat ini, rasanya bergeletakkan di tanah pun tak akan ada yang menyadari, meskipun aslinya kaos kami berwarna asal merah terang. Sambil menanti caraka lain, secangkir minuman hangat cukup menenangkan perut kami. Tidak sedikit yang menyerah di tengah jalan, namun lebih banyak caraka yang berhasil menuntaskan perjuangan, hingga mengundang decak kagum para bapak dari TNI Polri melihat rakyat sipilnya cukup tangguh menempuh aral melintang. Perjalanan malam hingga dini hari itu ditutup dengan mencium Sang Saka Merah Putih secara bergantian di sisi api unggun yang menyala besar, oleh mata yang basah karena cintanya pada Ibu Pertiwi.
Tidak seperti saat berangkat, kali ini tidak ada yang bersuara di tronton yang membawa kami dari Lembang, semua tertidur pulas kelelahan. Semoga esok, saat kami sampai di Sentul, kami mampu kembali tersenyum ketika bertemu dengan Bapak Presiden di penghujung masa baktinya selama sepuluh tahun memimpin negara ini, untuk melepas kami, para awardee.
Salam hormat kepada para Pelatih dan Patriot di berbagai penjuru nusantara.
*ditulis dalam rangka One Week One Writing Kelas Minat Menulis Ibu Profesional Depok
Sabtu, 27 Oktober 2018
Memorable Childhood Memories: Menemani Ibu Berbelanja
Assalamualaikum Bu,
Gimana kabar Ibu saat ini?
Sudah ndak sakit lagi ya, alhamdulillah :')
Bu, ternyata menjadi Ibu, berat ya..
Aku ndak kebayang ternyata serumit ini menjalani peran sebagai seorang Ibu, padahal kondisiku sekarang mungkin sudah jauh lebih baik dari yang Ibu dulu alami.
Sekarang ini, aku selalu meminta pemakluman pada suami ketika tidak bisa memasak atau mengurus rumah karena kesibukan merawat anak, padahal dulu aku selalu menuntut makanan lengkap setiap waktu makan tiba. Harus ada nasi, sayur, lauk dan tempe. Jika tidak ada tempe, bukan main kecewanya aku saat itu. Padahal dulu tidak ada gofood. Kalaupun ada warung nasi atau warteg, dengan pertimbangan uang yang saat itu Ibu miliki, tentu akan memberatkan sekali jika harus selalu membeli di luar. Maka memasak sendiri adalah pilihan satu-satunya yang tersisa, di sisa tenagamu usai berdagang di pasar. Maafkan aku ya, Bu..
Ibu, meskipun kadang aku malu mengakui bahwa Ibuku berdagang buah di pasar, sejujurnya aku selalu menanti saat akhir pekan tiba. Karena hanya hari minggu lah, ketika aku tidak bersekolah, aku bisa ikut Ibu berbelanja di Pasar Musi. Usai solat subuh, aku lihat Ibu sudah siap untuk berangkat, maka aku pun bersiap untuk turut serta. Di pagi yang dingin, aku kadang kesulitan menyejajari langkah Ibu yang begitu cekatan menuju angkutan umum yang akan membawa kita ke Depok Timur Dalam, lokasi Pasar Musi berada. Pasar Musi yang dulu tidak serapi sekarang, masih banyak genangan air dimana-mana. Maka melihat bagian belakang pakaianmu yang selalu kotor terkena cipratan air adalah pemandangan yang dulu terasa biasa, tetapi kini terasa begitu istimewa.
Berada selalu di sisi Ibu, aku mempelajari proses tawar-menawar di pasar, tentu setelah memilih buah-buahan dengan kualitas yang baik, entah dengan melihatnya maupun mengetuk-ngetuknya. Usai mendapatkan buah sejumlah yang Ibu butuhkan, maka Ibu akan mencari becak yang akan membawa kita dan hasil belanjaan ke Pasar Mini, Pasar dekat rumah kita, tempat Ibu berjualan. Namun menariknya, setiap aku menemani Ibu berbelanja, aku mengamati ada aktivitas khusus yang selalu Ibu lakukan. Sebelum kita menaiki becak itu, Ibu tak pernah lupa mengajakku ke arah pintu selatan pasar, membeli surabi. Tampilan surabi jaman dulu memang tidak se-ciamik sekarang yang disuguhkan dengan berbagai macam topping, hanya disirami santan, tetapi rasanya itu surabi terlezat yang pernah kumakan. Mungkin karena Ibu yang memberikannya, sebagai hadiah karena aku menemani Ibu berbelanja pagi itu. Usai mengantongi surabi hangat, dengan senyum terkembang khas anak-anak, maka aku pun mengikuti Ibu naik ke atas becak. Dikelilingi tandanan pisang dan pepaya, aku sangat menikmati udara pagi di Depok kala itu, di sampingmu.
Sesampainya di Pasar Mini, maka Bapak tukang becak pun membantu menurunkan belanjaan Ibu. Setelah merapikan tempat untuk berjualan, maka Ibu akan mulai menata dagangan. Meskipun seorang perempuan, Ibu cekatan sekali mengambil pisau di tas, kemudian memotong tandanan pisang, hingga menjadi sisiran yang siap dijual. Tak perlu bayangkan tas-tas bermerk ternama yang selalu menggantung di pundak Ibu. Itu hanya tas biasa, yang di dalamnya agak kotor, karena meskipun Ibu selalu berusaha melapisi pisaunya dengan kertas koran, dengan kondisi yang selalu terguncang karena dibawa kemana-mana, maka getah pisang dan buah-buahan lainnya pun sering menempel di tas. Tak ayal membuat bagian dalam tas Ibu terlihat lebih lusuh dibanding bagian luarnya yang terlihat lebih sedap dipandang.
Berjibaku dari subuh hingga zuhur di pasar, kemudian beristirahat sejenak hingga asar, lalu lanjut memasak dan mencuci hingga maghrib, rasanya cukup menjadi alasan kelelahan dirimu. Namun itu tak pernah terlontar dari bibirmu. Cukup berkumpul dengan keluarga selepas Isya, kehangatan keluarga kita begitu terasa. Sesekali kita berkumpul di beranda- tentunya tanpa direcoki benda mungil bernama ponsel pintar- menikmati sekuteng hangat dari tukang yang lewat atau gorengan pisang yang Bapak buat di tengah dinginnya malam di Depok kala itu. Sungguh aku bersyukur mengingat masa itu. Meskipun zaman dahulu belum ada sosial media ataupun kajian parenting kekinian, sesungguhnya Ibu dan Bapak telah menyuguhkan memori masa kecil yang begitu indah bagi kami, aku dan kedua adikku.
Aku tahu Ibu berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulangi didikan di masa kecil Ibu dulu, pun dengan Bapak. Jika dahulu Ibu dididik keras oleh Simbah Putri sehingga anak-anaknya tumbuh tangguh -namun karena rasa takut- Ibu justru menumbuhkan ketangguhan kami melalui kelembutan. Kegigihan Simbah Putri memang tak bisa dipungkiri menghasilkan berbagai warisan material yang bisa dinikmati anak cucu, namun kerja keras dan kesabaran Ibu dan Bapak juga telah mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi, di berbagai universitas terbaik, yang bahkan ber-skala dunia. Bukankan ilmu adalah warisan terbaik yang dibekalkan pada generasi selanjutnya?!
Saat ini, dan sampai kapanpun, kami memang tak akan mampu membalas kebaikan Bapak dan Ibu. Namun, semoga doa lirih yang selalu kami ucapkan usai solat, bisa menjadi salah satu wasilah kebahagiaanmu.
“Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka, seperti mereka menyayangi kami di waktu kecil”.
“..Sayangi mereka, seperti mereka menyayangi kami di waktu kecil”
Frase yang begitu indah, yang memacuku untuk juga mampu menyayangi dan menyuguhkan masa kecil yang menyenangkan bagi anak-anakku kelak, seperti Bapak dan Ibu telah mencontohkannya.
Saat ini, kita memang sudah sulit untuk bertemu pandang ya, Bu. Tetapi insyaallah, manisnya senyum Ibu akan selalu terukir di hati, meski kini hanya bisa membelai nisanmu.
Allahumaghfirlaha warhamha waafiha wa’fuanha..
*Ditulis dalam rangka One Week One Writing Kelas Minat Menulis IP Depok
Langganan:
Postingan (Atom)











