Minggu, 17 Februari 2019

Pekerjaan Ramah Ibu

Jika kita sudah terbiasa mendengar istilah "Harganya ramah di kantong" atau "Kota Ramah Anak", pernahkah terlintas dalam benak kita mengenai "Pekerjaan Ramah Ibu"? Saya pribadi, terpikir terminologi tersebut usai berdiskusi dengan Ibu angkat saya ketika short course di Amerika. Ide tersebut muncul setelah saya menanyakan kepada beliau bagaimana beliau mengelola amanah parenting selagi merintis karir sebagai seorang professional family nurse practicioner. Jawaban beliau kemudian menyisakan harap yang teramat besar dalam diri saya, mengingat hasil didikan beliau telah berhasil menjadi dua gadis muda yang tumbuh bahagia, sehat, cerdas, tangguh, berwawasan luas dan berkuliah di tempat ternama berbekal beasiswa prestasi yang kompetitif.

Menurutnya, ketika kedua putrinya masih kecil, beliau mengambil posisi sebagai part-time worker di sebuah klinik. Selain bisa berangkat lebih siang dan pulang lebih cepat daripada posisi full-timer, menyandang status part-timer memudahkannya untuk libur satu hari weekdays (selain weekend tentunya) sehingga dapat meluangkan waktu untuk kedua putrinya dengan lebih optimal. Pilihan hidupnya ini pun didukung oleh suaminya, yang kini menduduki posisi professor di sebuah universitas ternama di Negeri Paman Sam sana. Dukungan tersebut berupa membantu mengurus anak-anak usai pulang bekerja, seperti memandikannya, memberikan makan, membacakan buku, dll. Masih menurut sang Ibu, hal tersebut bukan perkara lumrah di kalangan masyarakat Amerika saat itu, namun mereka tetap melakukannya untuk mendukung semua anggota keluarga berkembang. Dukungan lain tentu saja datang dari lingkungan pekerjaan sang Ibu, dimana menurut perundang-undangan disana, adalah hal yang memungkinkan bagi seorang  pekerja formal profesional untuk menjadi pekerja paruh waktu dengan alasan tertentu, misal mengasuh anak, merawat orang tua atau pasangan yang sakit, dll. 

Memangnya mengapa seorang wanita perlu repot-repot untuk tetap bekerja? Menjawab pertanyaan ini, terdapat beberapa alasan yang dikemukakan oleh sang Ibu. Pertama, bekerja di luar membuatnya bahagia dan terpenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Menjadi perawat di Amerika adalah hal yang membutuhkan energi luar biasa, apalagi dengan pendidikan setara master yang dimiliki oleh sang Ibu, maka bekerja di ranah publik memberikannya kesempatan untuk mengaplikasikan ilmunya dan merasa bahagia dapat bermanfaat untuk orang lain. Kedua, berkerja di luar rumah memberikannya jeda terhadap kegiatan parenting. Hal ini bukan berarti ia tidak menyukai parenting, tetapi jeda memberikan kesempatan baginya untuk mengambil energi dari luar dan menyebarkannya di rumah. Ia mencintai anak-anaknya, kedua putrinya adalah dunianya dan hal terpenting dalam hidupnya, namun ia mengakui selalu berada bersama mereka 24/7 tidak menjamin kualitas pengasuhan yang dapat ia berikan lebih berkualitas dibandingkan ketika ia pulang bekerja dan telah selesai dengan kebutuhan dirinya. Ketiga, bekerja memberikannya kesempatan untuk menjadi partner yang setara bagi suaminya. Ia tidak terlalu merasa bergantung pada suaminya perihal finansial. Mungkin pada poin ini perlu ditekankan, bahwa semua yang dipaparkan disini sangat terkait dengan nilai dan kepercayaan yang dianut oleh seseorang dan diterapkan kekeluarganya. Dalam hal ini, keluarga angkat saya adalah keluarga Yahudi, maka prinsip mengambil yang baik dan sesuai, serta tinggalkan yang tidak sesuai, rasanya perlu diperhatikan.

Lalu bagaimana kondisi para Ibu di Indonesia saat ini? Dengan ketersediaan berbagai fasilitas, semakin banyak perempuan Indonesia yang mendapatkan pendidikan tinggi. Tak dapat dipungkiri, hal ini juga yang kemudian mendorong para Ibu untuk kembali ke rumah dan  mendampingi tumbuh kembang putra-putrinya. Namun, tuntutan sosial agar para lulusan pendidikan tinggi tidak menggantunkan ijazahnya dan hanya menengadahkan tangan menanti belas kasihan suami, juga memunculkan drama baru mengenai Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga yang seharusnya tidak perlu ada jika tersedia sebuah sistem yang mampu menyediakan pekerjaan yang ramah bagi seorang ibu.  Tidak ada yang salah menjadi online shopper karena hal tersebut adslah cara termudah seseorang mendapatkan penghasilan meskipun bekerja dari rumah, Namun, wanita pekerja formal seperti dokter, perawat, guru dll juga tentunya mengharapkan waktu yang lebih berkulitas untuk keluarganya dengan menjadi pekerja paruh waktu. Pekerjaan yang tetap memudahkannya menajalankan peran sebagai seorang Ibu tanpa meninggalkan identitias profesinya. Lalu bagaimana para Ibu di Indonesia bisa mendapatkan kesempatan untuk tetap menjadi seorang professional tanpa perlu menggadaikan peran pengasuhan, bahkan meningkatkannya. Jawabannya adalah sediakan sistem dan perundangan yang mendukung hal tersebut. Hal ini bisa dimulai dengan tersedianya hukum tertulis yang menyatakan bahwa pekerja formal profesional dapat berstatus sebagai tenaga paruh waktu tanpa mengurangi manfaat kepegawaian yang biasanya hanya dimiliki oleh pekerja berstatus full-timer. Selain itu, bangun supporting system yang mendukung seperti membangun pemahaman yang utuh kepada para pekerja mengenai hak dan kewajibannya, bahkan perlu disediakannya tempat penitipan anak yang aman dan berkulitas dengan posisinya yang mudah diakses dari tempat pekerjaan orang tua sehingga memudahkannya untuk berkomunikasi langsung dengan anaknya. Keluarga, sebagai supporting system utama, tentu tidak luput untuk memberikan dukungan bagi seorang ibu untuk tetap bertumbuh dengan bahagia sehingga dapat memberikan kebahagiaan bagi keluarganya pula.

1 komentar:

  1. Beberapa rumah sakit aku dengar menyediakan daycare untuk pegawai lho, ehehe... Ini menyenangkan sebagai bentuk kepedulian terhadap pegawai. Sayangnya, tidak semua memilih menggunakannya terutama yang jarak rumah dan lokasi bekerja terlalu jauh.

    Butuh negara emang yang campur tangan untuk pekerjaan perempuan. Seperti negara-negara maju membuat regulasi khusus untuk perempuan yang telah menjadi ibu untuk bekerja. Duh, semoga secepatnya bisa tercapai kesejahteraan untuk ibu-ibu yang bisa berkarya di luar rumah dengan adanya pekerjaan yang ramah ibu. aamiiin...

    BalasHapus