Sabtu, 25 Januari 2020

Membangun Karakter Anak melalui Dongeng - Day 3

Membangun Karakter Anak melalui Dongeng
-Day 3-

Dongengnya masih seputar kisah keseharian, hihi.. Gpp ya..
Kali ini pakai tokoh Snow White dan Aurora, yang Ibu buat kan untuk Arsy.
Arsy masih agak sulit minum banyak, padahal system pencernaannya agak spesial, jadi masih perlu banyak encouragement. Nah, jadilah ibu bikin cerita Snow White sedang main bersama Aurora, trus bilang mau buang air, sudah ke kamar mandi, tapi masih sulit juga. Kemudian Aurora menyarankan untuk minum lebih banyak dan makan pepaya, alhamdulillah Snow White jadi mudah pup nya. Mau dong Arsy nya mengcopy apa yang dibilang Aurora 😂 Trus anaknya ketagihan minta Dongeng sepanjang hari. Mungkin karena cerita nya relate dengan kehidupan nya, mungkin karena ia senang menjadi pusat perhatian cerita Ibu nya, mungkin juga hanya karena ia senang bersama Ibu nya :") Ah, anak kecil semenyenangkan itu ketika diberikan sedikit saja kebahagiaan masyaallah ^_^
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Jumat, 03 Januari 2020

Catatan (tentang) Buku: 5 Guru Kecilku, Bagian II, penulis: Kiki Barkiah




Reading list tahun ini saya mulai dengan membaca buku 5 Guru Kecilku Bagian II, souvenir yang saya dapat usai mengikuti acara ‘Ngobrol Seru Bareng Teh Kiki Barkiah’ yang digagas oleh komunitas @kawan.ibu di Aula Rabbani Depok, 29 Desember 2019 lalu. Membaca buku ini tidak seperti buku-buku sebelumnya yang bisa habis dalam beberapa saat. Butuh waktu untuk merenung usai tiap membaca bagiannya.

Melalui buku ini, pembaca seperti diizinkan mengintip apa yang sebenarnya terjadi di balik bangunan rumah Teh Kibar. Berbagai pertanyaan saya mengenai bagaimana banyak keajaiban bisa terjadi di rumah Teh Kibar yang menerapkan homeschooling untuk semua anaknya, sedikit menemui titik terang. Mengapa sedikit? Karena saya yakin lebih banyak hikmah yang terserak melalui pengalaman yang dialami langsung oleh penduduk di rumah penuh berkah itu. Saya sering bertanya apakah semua anaknya memang sudah memiliki manner yang terjaga, pemahaman yang baik, dan Teh Kibar nya memang telah memiliki kurikulum terstruktur untuk keseluruh anaknya? Lalu bagaimana dengan pekerjaan rumahnya terselesaikan tanpa bantuan ART maupun keluarga besar?

Kalau ditanya apa kekuatan terbesar mereka menjalani pola kehidupan yang luar biasa, ternyata jawabannya sama dengan kita, yaitu Allah SWT. Bedanya, mungkin kadar kepercayaan kita pada Allah, kebergantungan kita pada Allah, dan kemampuan kita melibatkan Allah dalam setiap nafas kebaikan. Di buku ini, Teh Kibar menunjukkan bahwa keluarganya benar-benar melibatkan Allah dalam setiap urusannya. Hal ini tergambar dalam berbagai fragmen ketika ia mengajarkan anak-anaknya dalam situasi full-day homeschooling, membahagiakan hati anak-anaknya yang melakukan kebaikan, ataupun ketika menegur anaknya yang berbuat kesalahan. Kalau selama ini kita membaca teks-teks parenting hanya berupa teori, buku ini juga menuliskan percakapan yang benar-benar dipraktikkan di keluarga mereka. Contohnya ketika panggilannya tak juga dihiraukan oleh anak-anaknya, maka ia berdoa dengan suara yang bisa didengar oleh semua anak-anaknya, ‘Ya Allah, jadikanlah lisan kami mengandung kebenaran dan mengajak kebaikan. Lisan yang didengarkan dan dipatuhi anak-anaknya’. Tak ayal, anak-anaknya pun bergegas memenuhi panggilan Ibunya karena hati mereka telah penuh dengan kedekatan pada Allah, sebelum apapun.

Lalu apakah memang semua anaknya sudah memiliki manner yang baik? Berulang kali Teh Kibar mengingatkan bahwa keluarganya juga manusia yang sedang dan akan terus belajar, maka berbuat salah adalah wajar, tetapi harus bersegera memperbaiki diri setelahnya. Memiliki lima (yang sekarang tujuh) anak tentunya memberi warna yang berbeda-beda dalam setiap karakter individunya. Ia diberkahi dengan anak yang cerdas dan selalu lapar ilmu pengetahuan baru -meski telah mengikuti kurikulum dari virtual school yang disediakan pemerintah USA- yang mau tidak mau juga mengakselerasi orang tuanya untuk layak mendampingi anak cerdas. Keluarga mereka juga diberkahi dengan anak yang unik gaya belajarnya, terlihat kurang bersemangat di awal dan selalu banyak alasan untuk mulai belajar. Meskipun demikian, ketika ia sudah mulai belajar, ia dapat menguasai pelajaran dengan pemahaman yang sangat baik dan durasi lebih cepat daripada yang dilalui saudaranya. Episode tantrum yang kerap dikhawatirkan orang tua dan bagaimana orang tua berespon terhadap kondisi itu, juga tidak luput dibahas dalam buku ini.

Lalu bagaimana semua kegiatan pembelajaran homeschooling bisa berjalan bersamaan dengan kegiatan domestic rumah tangga? Multi-tasking. Semua aktivitas di rumah itu berjalan parallel. Ketika satu anak belajar, anak lain diberikan kesempatan eksplorasi. Ketika sang Ibu menyiapkan makanan yang hanya berlangsung kurang dari 30 menit, ia melakukannya sambil menyetel murotal atau murojaah Alquran atau mendengarkan audio berbagai kajian. Ketika ia menyusui, bisa sambil mendengarkan hafalan Alquran anak-anaknya atau membacakan buku. Anak-anak juga saling membantu untuk menyelesaikan standar pagi-sore dan daily plan-nya karena hiburan outing ke luar setiap harinya hanya dapat dilakukan jika telah menyelesaikan standar tersebut dan tidak ingin ada saudaranya yang tertinggal karena belum menyelesaikan tugasnya. Prinsip di rumahnya, tidak boleh ada yang menganggur di rumah dan harus senantiasa menyibukkan diri dalam kebaikan.

Memang terlihat berat sekali apa yang dikerjakan oleh Teh Kibar dan keluarganya, tetapi cita-cita mereka juga memang begitu mulia, menjadikan anak-anaknya generasi Islam yang gemilang, penghafal Alquran yang juga seorang penemu yang temuannya membawa manfaat bagi umat. Mungkin berat bagi kita untuk mencontohnya secara keseluruhan, namun mengaplikasikan sedikit demi sedikit rasanya bisa kita lakukan untuk membangun generasi Islam yang lebih baik.