Reading list tahun ini saya mulai dengan membaca buku 5 Guru Kecilku
Bagian II, souvenir yang saya dapat usai mengikuti acara ‘Ngobrol Seru Bareng Teh Kiki Barkiah’ yang digagas oleh komunitas
@kawan.ibu di Aula Rabbani Depok, 29 Desember 2019 lalu. Membaca buku ini tidak
seperti buku-buku sebelumnya yang bisa habis dalam beberapa saat. Butuh waktu untuk
merenung usai tiap membaca bagiannya.
Melalui buku ini, pembaca seperti diizinkan mengintip apa yang sebenarnya
terjadi di balik bangunan rumah Teh Kibar. Berbagai pertanyaan saya mengenai bagaimana
banyak keajaiban bisa terjadi di rumah Teh Kibar yang menerapkan homeschooling
untuk semua anaknya, sedikit menemui titik terang. Mengapa sedikit? Karena saya
yakin lebih banyak hikmah yang terserak melalui pengalaman yang dialami
langsung oleh penduduk di rumah penuh berkah itu. Saya sering bertanya apakah
semua anaknya memang sudah memiliki manner yang terjaga, pemahaman yang baik,
dan Teh Kibar nya memang telah memiliki kurikulum terstruktur untuk keseluruh
anaknya? Lalu bagaimana dengan pekerjaan rumahnya terselesaikan tanpa bantuan
ART maupun keluarga besar?
Kalau ditanya apa kekuatan terbesar mereka menjalani pola kehidupan yang
luar biasa, ternyata jawabannya sama dengan kita, yaitu Allah SWT. Bedanya,
mungkin kadar kepercayaan kita pada Allah, kebergantungan kita pada Allah, dan
kemampuan kita melibatkan Allah dalam setiap nafas kebaikan. Di buku ini, Teh
Kibar menunjukkan bahwa keluarganya benar-benar melibatkan Allah dalam setiap
urusannya. Hal ini tergambar dalam berbagai fragmen ketika ia mengajarkan
anak-anaknya dalam situasi full-day homeschooling, membahagiakan hati
anak-anaknya yang melakukan kebaikan, ataupun ketika menegur anaknya yang
berbuat kesalahan. Kalau selama ini kita membaca teks-teks parenting hanya berupa
teori, buku ini juga menuliskan percakapan yang benar-benar dipraktikkan di
keluarga mereka. Contohnya ketika panggilannya tak juga dihiraukan oleh anak-anaknya,
maka ia berdoa dengan suara yang bisa didengar oleh semua anak-anaknya, ‘Ya
Allah, jadikanlah lisan kami mengandung kebenaran dan mengajak kebaikan. Lisan
yang didengarkan dan dipatuhi anak-anaknya’. Tak ayal, anak-anaknya pun
bergegas memenuhi panggilan Ibunya karena hati mereka telah penuh dengan
kedekatan pada Allah, sebelum apapun.
Lalu apakah memang semua anaknya sudah memiliki manner yang baik?
Berulang kali Teh Kibar mengingatkan bahwa keluarganya juga manusia yang sedang
dan akan terus belajar, maka berbuat salah adalah wajar, tetapi harus bersegera
memperbaiki diri setelahnya. Memiliki lima (yang sekarang tujuh) anak tentunya
memberi warna yang berbeda-beda dalam setiap karakter individunya. Ia diberkahi
dengan anak yang cerdas dan selalu lapar ilmu pengetahuan baru -meski telah
mengikuti kurikulum dari virtual school yang disediakan pemerintah USA- yang
mau tidak mau juga mengakselerasi orang tuanya untuk layak mendampingi anak
cerdas. Keluarga mereka juga diberkahi dengan anak yang unik gaya belajarnya,
terlihat kurang bersemangat di awal dan selalu banyak alasan untuk mulai belajar.
Meskipun demikian, ketika ia sudah mulai belajar, ia dapat menguasai pelajaran dengan
pemahaman yang sangat baik dan durasi lebih cepat daripada yang dilalui
saudaranya. Episode tantrum yang kerap dikhawatirkan orang tua dan bagaimana
orang tua berespon terhadap kondisi itu, juga tidak luput dibahas dalam buku
ini.
Lalu bagaimana semua kegiatan pembelajaran homeschooling bisa berjalan
bersamaan dengan kegiatan domestic rumah tangga? Multi-tasking. Semua aktivitas
di rumah itu berjalan parallel. Ketika satu anak belajar, anak lain diberikan
kesempatan eksplorasi. Ketika sang Ibu menyiapkan makanan yang hanya
berlangsung kurang dari 30 menit, ia melakukannya sambil menyetel murotal atau
murojaah Alquran atau mendengarkan audio berbagai kajian. Ketika ia menyusui,
bisa sambil mendengarkan hafalan Alquran anak-anaknya atau membacakan buku.
Anak-anak juga saling membantu untuk menyelesaikan standar pagi-sore dan daily
plan-nya karena hiburan outing ke luar setiap harinya hanya dapat dilakukan
jika telah menyelesaikan standar tersebut dan tidak ingin ada saudaranya yang
tertinggal karena belum menyelesaikan tugasnya. Prinsip di rumahnya, tidak
boleh ada yang menganggur di rumah dan harus senantiasa menyibukkan diri dalam
kebaikan.
Memang terlihat berat sekali apa yang dikerjakan oleh Teh Kibar dan
keluarganya, tetapi cita-cita mereka juga memang begitu mulia, menjadikan
anak-anaknya generasi Islam yang gemilang, penghafal Alquran yang juga seorang
penemu yang temuannya membawa manfaat bagi umat. Mungkin berat bagi kita untuk
mencontohnya secara keseluruhan, namun mengaplikasikan sedikit demi sedikit
rasanya bisa kita lakukan untuk membangun generasi Islam yang lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar