Gerakan membacakan seribu buku sebelum usia lima tahun, apakah itu tidak
terlalu berlebihan? Mari kita hitung. Jika dibagi dalam lima tahun, maka dalam
setahun, setidaknya hanya 200 buku saja yang perlu dibaca. DIbandingkan dengan 365
hari yang tersedia, maka jika kita membacakan sebuah buku setiap harinya saja,
hal tersebut sudah lebih dari cukup.
Kegiatan ini mungkin belum terlalu familiar di tempat kita, namun
ternyata gerakan ini sudah marak dilakukan di berbagai negara maju untuk
mendukung perkembangan anak secara optimal. Berbagai perpustakaan di
negara-negara tersebut kerap membuat tantangan untuk mendukung anak-anak
mengikuti gerakan membaca buku ini dengan reward
berupa mainan atau buku. Orang tua tentunya juga diharapkan berperan aktif
dalam gerakan peningkatan literasi ini, dengan membacakan buku nyaring (read-aloud) ke anak. Tidak perlu teknik
khusus, cukup luangkan waktu dan mulailah membacakan apa yang tertera pada buku
dengan sepenuh hati anda, sehingga anda dan anak dapat mengikuti cerita
tersebut dengan menyenangkan.
Membacakan buku di
usia dini dipercaya dapat menstimulasi otak anak. Otak yang mendapatkan
stimulasi memadai sejak awal akan membantu anak untuk mengelola informasi lebih
cepat dan tepat sehingga ia tumbuh cerdas dan kreatif. Hal ini juga diyakini membantu
anak untuk lebih siap memasuki dunia sekolah dan tumbuh menjadi pembelajar
aktif dan mandiri sepanjang hidupnya. Dalam sebuah penelitian, dampak tersebut dikarenakan
dalam aktivitas membaca di usia dini terdapat kegiatan mengenali huruf dan
suara yang ditimbulkannya, menstimulasi kecerdasan matematika logis
(membandingkan ukuran bunga, mencocokkan binatang dengan induknya, dll), menghubungkan
bacaan dengan kondisi di sekitar anak (“wah, bukunya cerita tentang banjir,
kemarin rumah kita juga banjir ketika hujan besar”) dan menjadikannya sebagai
dasar untuk kemampuan berpikir yang lebih kompleks di waktu mendatang1.
Dalam analisis hasil Programme for International Students Assessment (PISA)
yang melibatkan 32 negara, terdapat hubungan yang signifikan antara anak yang gemar
membaca dan variative jenis bacaannya, dengan nilai literasi membacanya dalam
PISA, terlepas dari bagaimanapun latar belakang social ekonominya2.
Kabar baiknya, gerakan seribu buku sebelum usia lima tahun ini tidak
mengharuskan anda membacakan seribu buku berbeda, tetapi bisa saja membacakan
buku yang sama berulang-ulang. Meskipun demikian, tidak dapat kita pungkiri bahwa
semakin beragam buku yang dibaca, maka akan semakin kaya wawasan dan kosakata
yang dimiliki anak. Dengan demikian, tidak berlebihan sekiranya kita akan
melihat anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang kaya gagasan di kemudian hari
dengan tabungan wawasan dan kosa katanya yang berlimpah.
Lalu bagaimana melakukannya? Mulailah sedini mungkin. Dalam sebuah penelitian3,
janin dalam kandungan sudah dapat mendengar suara anda. Selain percakapan
sehari-hari, anda dapat mengajaknya untuk mulai membaca buku dengan bersuara (read-aloud). Perhatikan responnya,
apakah ada tendangan dari dalam perut ketika anda mulai memainkan intonasi suara?
Pasti menyenangkan sekali bukan?!
Bagaimana jika anak anda baru berusia satu tahun, apakah mungkin
membacakan buku untuknya? Tentu. Anda bisa memulainya dengan membacakan buku
bergambar, dengan teks seminimal mungkin. Pada buku bergambar, yang merupakan
buku tahap awal pengenalan membaca, bisa saja dalam satu halaman buku hanya
terdapat gambar sepenuh halaman dengan satu-dua teks, seperti ‘seekor gajah’.
Gambar gajah itulah yang akan menarik perhatiannya. Ketika anda menceritakan tentang
gajah dengan berbagai imajinasi yang dapat anda perdengarkan pada anak,
disitulah ia akan mulai tertarik untuk duduk di pangkuan anda menyimak apa yang
anda ceritakan.
Namun, seperti yang
kita pahami bahawa rentang konsentrasi anak masih terbatas. Anak usia setahun
berarti baru bisa berkonsentrasi dalam satu menit, sedangkan anak usia dua
tahun, baru bisa berkonstentrasi selama dua menit, dan seterusnya. Oleh karena
itu, perlu dimaklumi jika anda mendapati aktivitas membaca buku ini tidak bisa bertahan
lama di awal. Ia hanya duduk sejenak sekitar satu dua menit, lalu kembali
bermain dengan mainannya. Tidak masalah, anda bisa terus membacakannya sambil
sesekali memanggil namanya untuk menarik perhatiannya. Atau anda sudahi, namun
lakukan beberapa kali sehari sehingga anak terbiasa dengan aktivitas membaca
buku tersebut. Atau bisa saja anda agendakan kegiatan membaca buku ini khusus
di penghujung hari sebelum tidur, sehingga ketika anak sudah merasakan
kesenangan ini, ia akan senantiasa menanti anda di tempat tidurnya untuk
membacakan buku sebelum terlelap ke alam mimpi. Namun, dalam sebuah penelitian,
durasi membacakan buku ini sebaiknya tidak kurang dari lima belas menit setiap
harinya secara berkelanjutan untuk mendapatkan manfaat yang optimal4.
Ada berbagai jenis buku yang dapat diberikan pada anak. Dari bahan
pembuatan buku, pada fase awal, buku yang dikenalkan sebaiknya memiliki materi
yang kuat seperti board book atau buku bantal sehingga tidak mudah disobek atau
digigit, sambil terus mengingatkannya untuk bersama-sama merawat buku yang dibacanya.
Dari isi bacaan, usai pengenalan melalui buku bergambar, secara bertahap, anda
dapat mengenalkannya pada buku cerita dengan teks yang lebih banyak, yang
tentunya masih dibacakan oleh orang tua atau pengasuhnya. Belakangan ini, buku cerita
untuk anak juga sudah memiliki banyak fitur yang menarik, seperti buka-tutup,
geser, pop-up, dsb. Selain buku bergambar dan buku cerita, anak juga dapat
dikenalkan dengan buku aktivitas untuk membuatnya senang bermain bersama buku, dengan
fitur seperti wipe and clean untuk latihan
menulis, mewarnai, gunting-tempel, dll. Kelak, dengan semakin banyak hal yang
bisa ia dapatkan dari aktivitas membaca buku, semakin tinggi minatnya untuk
mampu membaca secara mandiri. Ketika anak sudah mampu membaca bukunya sendiri,
ia akan bersemangat untuk membaca berbagai buku tanpa gambar untuk mengetahui
isi buku tersebut. Berbagai jenis buku pun dapat anda tawarkan untuk memperkaya
wawasannya. Atau jangan-jangan anda yang akan kewalahan dengan tingginya
semangat membaca buku anak sehingga ia minta dibacakan buku berulang kali atau
mengajukan pembelian buku baru. Meskipun demikian, jika dibandingkan aktivitas lainnya,
rasanya kegiatan membaca buku yang dapat berdampak pada meningkatnya kecerdasan
anak ini layak diperjuangkan bukan?!
Referensi
2. Kirsch, I., de
Jong, J., Lafontaine, D., McQueen, J., Mendelovits, J., & Monseur, C.
(2002). Reading for change: Performance and engagement across countries:
Results from PISA 2000. Paris, France: Organization for Economic Co-operation and Development
(OECD).










