Dalam postingan kali ini, saya tidak akan membahas panjang lebar manfaat vaksin, apalagi pro kontra nya yang melibatkan anti-vaks. Duh, saya cuma mau ikhtiar agar anak sehat, dan alhamdulillah-nya dengan kemajuan teknologi, beberapa penyakit mematikan sudah tersedia vaksinnya. Selain melindungi anak-anak kita yang sehat agar tetap produktif, dengan memberikan vaksin kita juga membentuk kekebalan komunitas, khususnya bagi anak-anak yang tidak bisa memperoleh vaksin karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan.
Selain itu, kabarnya di beberapa negara maju seperti UK, USA dan UEA persyaratan masuk sekolah disana wajib mencantumkan data kelengkapan vaksin. Siapa yang tahu, anak-anak kita memperoleh rezeki menimba ilmu disana, mereka tak perlu menyalahkan orang tuanya karena persyaratan yang tidak lengkap. Mungkin bukan sekolah dasarnya, tetapi cerita seorang kawan yang hendak melakukan penelitan untuk program doktoralnya juga harus menunjukkan bukti kelengkapan vaksinnya, cukup membuktikan bahwa negara maju peduli dengan kesehatan rakyatnya melalui program vaksin ini. Maka apakah kita akan diam saja membiarkan kesempatan emas itu terlewat hanya karena satu ganjalan, tidak pernah vaksin?!
Disini, kita sepakat bahwa vaksin itu perlu. Mengingat sejauh ini saya bukan penerima manfaat asuransi swasta, maka upaya memvaksin anak perlu dipertimbangkan dengan seksama. Masalahnya, tidak semua vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu tersedia di Puskesmas dan gratis. Lalu bagaimana saya menyiasatinya?
Pertama, untuk vaksinasi dasar yang disediakan oleh Pemerintah, maka saya dapatkan di Puskesmas. Berbekal kartu BPJS dan beberapa jam menunggu antrian, alhamdulillah anak saya mendapatkan vaksinasi gratis dan insyaallah asli mengingat tidak pernah ada kasus vaksin palsu di Puskesmas ye kan?! Duh, biasanya kalau vaksin yang gratisan gitu pasti bikin demam. Oh please..demam itu tidak jahat, dia adalah upaya NORMAL tubuh dalam mengenali benda asing, jadi kalem aja menghadapinya. Mengutip pernyataan dokter anak terkenal di media sosial, dr.Apin, "kuncinya sabar dan gendong". Wajar ketika anak tubuhnya tidak nyaman menjadi rewel, maka yang dibutuhkan adalah kesabaran membersamai mereka dalam kondisi tersebut. Bagi saya sendiri, hari vaksin adalah hari bebas masak dan tugas rumah lainnya, sehingga saya bisa fokus mendampingi anak. Ketika demamnya terasa sekali, saya biasa melalukan skin to skin, pelukan ke anak tanpa pakaian. Saya dan anak tetap pakai baju tetapi gak dikancing :P. Kalau masih demam, bisa dilakukan terapi Tepid Water Sponge (TWS) metodenya para perawat untuk menurunkan demam dengan kompres air hangat di sekujur tubuh dengan lap basah, seperti memandikan tetapi tidak perlu diguyur, cukup dilap-lap saja. Cara ini membantu memperlancar peredaran darah sehingga memberi sinyal pada pengatur panas tubuh agar tidak terlalu tinggi. Terakhir, kalau masih rewel dan suhu tubuhnya di atas 38.5 derajat celsius untuk anak diatas usia enam bulan, maka boleh diberikan parasetamol. Tetapi gak usah dikit-dikit pake parasetamol ya. Balik ke konsep dasar, bahwa demam adalah cara tubuh merespon kondisi asing. Kan kita udah tau penyebabnya, kali ini demamnnya karena vaksin nih, jadi ya tinggal sabar aja, insyaallah dalam 24 jam udah normal lagi kok. Eh tapi kalau di puskesmas, nanti bisa ketularan orang sakit lho. Alhamdulillah, terima kasih kepada Pemkot Depok yang sudah menyediakan ruang bermain anak yang bisa sekaligus berfungsi sebagai ruang tunggu dan ruang menyusui sehingga anak bisa agak terlindungi dari kontaminasi penyakit.
Kedua, untuk vaksinasi yang direkomendasikan oleh IDAI tetapi tidak disubsidi oleh Pemerintah, maka saya mencari alternatif paling murah tetapi kualitasnya terjamin. (Mungkin perlu dicantumkan disclaimer dalam postingan ini bahwa tulisan ini murni, tanpa endorse-an dari manapun karena saya juga bukan siapa-siapa, hehe..) Saya merasa bersyukur dengan inisiatif dr. Piprim -dokter anak terkemuka- yang melalui kejeniusan beliau lahirlah Rumah Vaksin. Tempat ini akhirnya menjadi jawaban kegundahan hati para orang tua yang mau mengusahakan kesehatan anak dengan memberikan vaksin tetapi tidak memiliki pohon uang di rumahnya, hehe.. Bukaaan, jadi gini, kalau dibandingkan dengan biaya vaksin di RS swasta atau mungkin klinik pribadi dokter anak, vaksin di Rumah Vaksin bisa menghemat sekitar 30% mengingat tidak ada biaya jasa dokter. Biaya administrasi mungkin ada, tetapi tidak terlalu signifikan. Mengenai kontaminasi penyakit, hal tersebut juga sangat diminimalisasi dengan kita ke Rumah Vaksin mengingat yang datang untuk vaksin hanya anak-anak yang sehat toh?! Kabar baiknya, sudah banyak cabang Rumah Vaksin di berbagai daerah di Indonesia. Vaksinnya asli? Insyaallah terjamin, bahkan sebelum tindakan, kita dijelaskan dulu mengenai vaksin tersebut dan tanggal kadaluarsanya. Selain itu, layaknya konsul ke dokter, maka kita akan ditanya-tanya dulu mengenai kondisi anak, sambil dikaji riwayat vaksinasi dan tumbuh kembangnya. Usai vaksin, label vaksinnya ditempel di buku kesehatan anak. Itu yang ngasih vaksin dokter anak? Sejauh ini sepengetahuan saya tidak semua penanggung jawab Rumah Vaksin adalah dokter anak, tetapi mereka dibekali dengan pengetahuan khusus tentang anak. Dokter-dokternya pun mau dikonsulkan via ponsel jika orang tua ada pertanyaan, misal mengenai efek pasca vaksin, bahkan konsultasi terkait program vaksin pemerintah melalui ORI nya-yang jelas-jelas tidak akan suntik di Rumah Vaksin pun akan tetap dilayani oleh dokternya.
Demikian sedikit tips orang tua sayang anak tetapi gak punya pohon uang, eh maksudnya resourcenya terbatas :D
Dana boleh terbatas, tetapi wawasanmu haruslah melangit luas ^_^
Salam sayang untuk para generasi masa depan, yang dengannya kami titipkan harapkan.
Semoga segala ikhtiar dari kami para orang tua, menjadi bekalan yang baik bagi kalian menuai cita.
Mak Vita... 😍😘
BalasHapusTerimakasih banyak tipsnya
sama-sama Mak Put, semoga kita bisa selalu mengiktiarkan upaya terbaik untuk anak2 ya.. makasi juga udah mampir ke "rumah kedua" saya :*
Hapus