Selalu ada pertama kali dalam hidup, apalagi ketika menjejakkan kaki di bagian bumi yang berbeda. Seperti kata pepatah, "Dimana langit dipijak, disitu langit dijunjung". Maka mempelajari budaya dan adab setempat merupakan hal yang harus dilakukan agar dapat diterima di masyarakat tersebut, tentu tanpa menegasikan syariat.
Kemerisik daun mapple yang mulai berguguran menggoda mata dan kakiku untuk mengambil salah satunya sehingga dapat kuperhatikan daun itu lebih dekat. Ah, cantik sekali memang bentuk dan warna dedaunan ini, tak heran Kanada menggunakannya di bendera negara mereka. Kuambil beberapa, lalu kusisipkan di kantong mantel musim dingin yang kukenakan. Mungkin daun itu bisa kukeringkan dan kujadikan pembatas buku yang cantik, pikirku. Langkahku melaju menuju pintu kaca gedung "Yocum Hall", asrama mahasiswa internasional, tempat sekitar 200 mahasiswa University of Arkansas tinggal. Gedung asrama lainnya tersebar di beberapa titik di universitas ini. Sebagian besar universitas di negara maju memang memiliki tower-tower asrama untuk mahasiswanya. Selain memastikan keamanan dan kelengkapan fasilitas bagi mahasiswanya, hal ini tentu menjadi sumber pemasukan yang menguntunkan bagi universitas bukan?!
Yocum Hall tempatku tinggal didominasi oleh mahasiswa berkebangsaan Amerika, meskipun ada beberapa mahasiswa dari negara lain yang tinggal disana, sebut saja Saudi Arabia, Turki, dan China, jumlahnya tidak seberapa.
Usai men-tap kartu mahasiswa di pintu masuk, pintu asrama itupun terbuka. Demi alasan keamanan, semua gedung di universitas memang dilengkapi fitur pengenalan identitas seperti itu. Dengan demikian, hanya pemilik kartu yang bisa mengakses gedung-gedung yang memang diperuntukan baginya. Sekilas menyapa Resident Assistant (RA) -mahasiswa merangkap asisten asrama- yang sedang berjaga, ternyata Ashlie, tetangga kamar sebelahku yang kini giliran berjaga. Ia gadis yang ramah dan open-minded. Pernah suatu kali di awal perkenalan kami, ia memuji jilbab bunga-bungaku, yang menurutnya cantik. Sejujurnya, sebelum sampai di negeri Paman Sam ini, aku sempat khawatir mengenai opini terorisme dikaitkan dengan jilbab. Namun bertemu dengan orang seperti Ashlie dan lainnya di tempat ini, kekhawatiranku perlahan memudar.
"Hi Vita, how're you doing? Everything is fine?" Sapa gadis dengan rambut pirang berkebangsaan Amerika itu.
"Yes, everything is fine as you see, and I'm good. What are you doing?" Tanyaku melihat kesibukannya di depan komputer.
"Well, I need to do a couple task after supervising the rooms", ia menjelaskan pekerjaan paruh waktunya, Resident Assistant. Selain menjadi tempat bertanya para mahasiswa yang tinggal di asrama, mereka juga bertanggung jawab terhadap sarana di asrama. Ada beberapa cerita seru dan menyeramkan dari mereka, salah satunya ketika mereka memeriksa kamar mandi dan terdengar bunyi shower tetapi tidak ada orang disana, dan itu terjadi beberapa kali.
Akupun pamit padanya, untuk segera menuju laundry room di basement. Pagi tadi aku meletakkan pakaian kotor di mesin cuci. Seharusnya aku memindahkannya ke mesin pengering usai pakaian tersebut selesai di cuci, tetapi kali ini aku tidak bisa menunggu proses mencuci dan mengeringkan pakaian seperti sebelumnya. Aku baru ingat bahwa hari ini ada pertemuan dengan kakak-kakak di Permias (Persatuan Mahasiswa di Amerika Serikat) yang digelar di rumah salah satu mahasiswa master disana, sehingga aku bergegas pergi usai meletakkan cucian.
Sesampainya di laundry room, aku memeriksa nomor mesin cuci yang kupakai. Mesin tersebut masih menyala, namun sepertinya di dalam mesin tersebut bukan pakaianku. Sekilas aku memutarkan pandangan ke sekitar ruangan laundry itu. Berjejer sepuluh mesin cuci di sisi kiri dan sepuluh mesin pengering di sebelah kanan, dengan beberapa kursi panjang di tengahnya. Lalu mataku menuju ke pojokan ruangan, ada sebuah meja dengan tumpukkan baju disana. Saat kudekati, akupun mengenali baju-bajuku. Rupanya ada orang lain yang sudah melanjutkan proses mencuci-keringkan baju-bajuku. Oh Tuhan, rasanya aku malu sekali.. Segera kukemasi pakaianku dan membawanya ke kamar.
Setelah beberapa kali menggunakan fasilitas laundry tersebut, akupun belajar bahwa siapapun yang akan menggunakan mesin cuci, maka dia bertanggung jawab untuk memindahkan pakaian yang ada di dalamnya (jika ada) ke mesin pengering. Begitupun jika ada yang ingin menggunakan pengering, maka ia harus memindahkan pakaian yang sudah dikeringkan ke meja di pojokkan, sehingga sirkulasi pakaian dapat berjalan dan tidak ada yang dirugikan. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap sarana umum di asrama kami, mengingat kami tak perlu lagi membayar setiap kami ingin mencuci atau mengeringkan seperti yang diterapkan di mesin cuci umum yang harus memasukkan koin sebelum menggunakan mesin cuci dan pengering. Mengingat hal ini, aku sering tersenyum menyadari bahwa pandangan miring mengenai keegoisan penduduk negara ini ternyata tidak cukup tepat untuk menggambarkannya. Mereka memiliki sistem, untuk menjaga setiap penduduknya mendapatkan hak nya, tanpa merugikan orang lain. Mungkin hal tersebut yang lebih tepat disematkan kepada mereka.
Belakangan aku juga menemukan fakta menarik, bahwa beberapa baris kursi di tengah ruang laundry tersebut bisa jadi sarana berkenalan dan bercengkrama mahasiswa yang mungkin tinggal di lantai-lantai yang berbeda, sambil menunggu proses mencuci, sekaligus menghilangkan kepenatan di kamar. Ada juga beberapa mahasiswa lain yang membawa buku ke ruang laundry ini. Di gedung ini memang juga tersedia ruang olahraga dan bermain musik, namun menghabiskan waktu menunggu tanpa melakukan apapun selain bercengkrama ternyata menarik juga untuk dilakukan.
Fayettevile, Autumn, 2009
*ditulis dalam rangka One Week One Writing Kelas Minat Ibu Profesional Depok
Tidak ada komentar:
Posting Komentar