Minggu, 14 Oktober 2018

Berhati-hatilah dengan Si Peniru Ulung

"Arsy, kenapa?" Aku dan suamiku sama-sama terkejut mendengar pecahnya tangis Arsy tiba-tiba. Kami pun bergegas mencari sumber suara. Ternyata gadis 1 tahun 6 bulan kami terjerembab di samping kasur depan lemari sambil memegang botol minyak zaitun. Tanpa aba-aba aku segera mengangkatnya dan menaikkannya ke kasur. Kuambil botolnya sambil berkata, "Tidak main minyak lagi ya", melihat banyak bekas minyak di lantai. Tidak, aku tidak memarahinya, karena kami berusaha untuk tidak meninggikan suara ketika mengingatkan anak. Seperti yang dijelaskan dalam buku Enlighthening Parenting, cukup tunjukkan dimana kesalahan anak dengan kalimat tepat, tanpa perlu berlebihan atau mengungkit-ungkit kesalahan sebelumnya. Kalau bisa, lanjutkan dengan pernyataan bahwa dia bisa melakukan sesuatu lebih baik. Sayangnya, aku dan suamiku yang sempat tertidur kemudian terbangun kaget, tidak melakukan hal kedua. 

Iya, kami tak sengaja tertidur siang itu. Aku kira, usai menyusu, Arsy bermain dengan Ayahnya, sehingga aku bisa sedikit mengendurkan ketegangan otot dengan napping di pojok tempat tidur. Ternyata, Ayahnya Arsy pun tertidur di ujung tempat tidur karena kelelahan usai berziarah dan mencuci motor pagi tadi. Sontak tangisan Arsy mengagetkan kami. 

Setelah memastikan Arsy tidak terluka, akupun mengambil lap berusaha menghilangkan bekas tumpahan minyak zaitun. Arsy pun sudah jauh lebih tenang, bahkan kembali main bersama Ayahnya. 

Tiba-tiba Ayahnya berkata, "Eh, Arsy pakaikan minyak di kaki Ayah ya?" sambil mengusap-usap telapak kakinya yang basah oleh minyak.
Arsy yang memang belum mampu berespon layaknya orang dewasa, sehingga ia hanya acuh tak acuh.
Kemudian Ayahnya melanjutkan, "Terima kasih ya, Arsy pakaikan minyak di kaki Ayah ya, seperti yang Ibu lakukan setiap malam ke Ayah ya.
Akupun hanya bisa termenung. Masyaallah. Anak sekecil itu memperhatikan dengan jeli setiap perbuatan kami, orang dewasa di sekitarnya. Iya, memang aku selalu berusaha memberikan minyak sambil memijati telapak kaki suamiku yang cenderung kering. Menurutnya, setelah diberikan minyak, telapak kakinya menjadi lebih lembab dan dia bisa istirahat dengan lebih nyaman.

Setelah kami ingat-ingat, ternyata sudah banyak sekali hal yang mampu ia tiru dari kami. Gerakan solat contohnya. Meskipun jauh dari kata sempurna, setidaknya ia belajar bahwa kami menegakkan badan, membungkukkan tubuh dan bersujud untuk menyembah Illahi Robbi. Begitupun dengan aktivitas membaca buku yang begitu ekspresifnya persis seperti cara kami membacakan buku untuknya ataupun saat kami bersuara khusus ketika membaca Alquran. Menyadari hal ini, hati kami pun tertunduk malu dan berharap Arsy hanya meniru kebaikan yang kami lakukan dan sambil terus berharap agar kami layak dicontoh dan dijauhkan dari segala kebatilan yang mampu ia tangkap dengan super brain di golden periodnya.

Duhai Allah yang Maha Pemberi Petunjuk, mampukan kami menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kami.
Wahai Allah yang Maha Pelindung, lindungi anak-anak kami dari segala macam contoh yang tidak baik.
Ya Allah, hanya PadaMu lah kami titipkan segala harap, agar anak-anak kami kelak tumbuh menjadi ana-anak yang solih/ah, sehat, berakhlak mulia, cerdas, berawawasan luas, berilmu tinggi, bermanfaat bagi umat serta senantiasa beroleh ridhaMu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar